kisah relief candi borobudur

Pelajaran tentang Altruisme dan Welas Asih dari Kisah Relief Borobudur

Candi Borobudur bukan sekadar bangunan peninggalan zaman kerajaan Nusantara belaka. Di balik itu, Candi Borobudur adalah bukti bahwa peradaban, kebudayaan, dan spiritualitas nusantara sudah berkembang sejak ribuan tahun lampau. Relief yang terpahat di dinding-dinding batu Candi Borobudur bukanlah sekadar estetika belaka, melainkan visualisasi dari berbagai kisah moral yang terkandung dalam ajaran spiritualitas yang disebut “Dharma”.

Ada puluhan, atau mungkin ratusan, kisah-kisah bernapaskan filsafat Buddha yang terkandung di dalam relief-relief Candi Borobudur. Dan kali ini saya tertarik untuk menceritakan salah satunya, dari sebuah relief yang berjudul “Avisahya Jataka” atau “Kisah tentang Yang Tak Terkalahkan”. Kisah ini tergambar dalam 4 panel relief di tingkat pertama candi, yang disarikan dari kitab klasik karangan seorang filsuf Buddhis yang bernama “Aryashura” (nama kitabnya sendiri adalah Jatakamala).

Kisah ini menceritakan seorang bangsawan yang kaya raya dan dermawan. Ia gemar menggunakan harta bendanya untuk membantu orang-orang yang mengalami kesulitan. Kemurahan hatinya tak terkalahkan, sehingga ia dijuluki sebagai “Avisahya” atau “Yang Tak Terkalahkan”. Demikianlah ia dikenal.

Kabar mengenai kemurahan hatinya ternyata tidak hanya menyebar di alam manusia, tetapi juga menyebar hingga ke alam para dewa. Adalah Dewa Sakra, raja dari para dewa, yang kemudian merasa penasaran dengan Avisahya. Sakra ingin mengetahui sampai di mana batas kemurahan hati dari Avisahya. Kemudian, dengan kesaktiannya, Sakra menghilangkan beberapa harta milik Avisahya.

Mengetahui sebagian harta bendanya lenyap secara mendadak, Avisahya tidak merasa cemas sama sekali. Ia justru berpikir bahwa ini adalah bukti bahwa harta benda yang ia miliki tidaklah kekal, dan dengan demikian tidak sepantasnya ia melekati harta kekayaan miliknya. Mengetahui hal ini, ia semakin bersemangat untuk berderma, karena ia tahu bahwa kekayaan yang ia miliki sudah sepantasnya digunakan untuk meringankan kesulitan orang lain, bukan untuk ia lekati.

Hingga tibalah pada suatu hari, seluruh harta Avisahya benar-benar lenyap. Hanya ada dua benda yang tersisa, yakni seutas tali dan sebuah sabit. Lagi-lagi, Avisahya tidak gentar sedikitpun untuk berhenti menjadi seorang dermawan. Pengalaman ini justru membuat ia terpikir betapa menderitanya jatuh miskin dan tidak memiliki harta benda sedikitpun. Menyadari hal ini, ia justru menjadi semakin bersemangat untuk membantu orang lain. Dengan tali dan sabit, dua kepemilikannya yang masih tersisa, ia mulai keluar dari rumahnya, menyabit rumput dan menjualnya. Pendapatan yang ia peroleh kemudian digunakan lagi untuk membantu orang lain.

Semakin penasaran, Dewa Sakra kemudian turun ke bumi, menyapa Avisahya yang sedang bekerja menyabit rumput. Sakra berusaha untuk menguji keteguhan hati Avisahya, mengatakan bahwa ia lebih baik memikirkan dirinya sendiri yang sedang kesusahan daripada memikirkan orang lain. Tetapi Avisahya justru menjawab:

“Jika aku sekali lagi memperoleh kekayaan besar, itu pasti akan untuk menyenangkan para orang miskin. Untuk saat ini, bagaimanapun, bahkan dalam kondisiku yang rendah, aku akan memberikan sedekah sebaik yang aku bisa. Semoga aku tidak pernah lalai dalam menepati sumpah amal ini!

Singkat cerita, Avisahya tak sedikitpun terpengaruh oleh bujukan Sakra.

Merasa amat takjub dengan kedermawanan hati Avisahya, Dewa Sakra akhirnya menyampaikan bahwa ialah yang sebenarnya melenyapkan harta benda milik Avisahya. Sakra kemudian sungguh kagum dengan keteguhan dan kemurahan hati Avisahya, dan dengan demikian Sakra mengembalikan harta benda Avisahya yang selama ini ia sembunyikan. Kembalilah Avisahya menjadi seorang yang kaya raya. Avisahya menjadi gembira, bukan karena ia kembali menjadi kaya raya, melainkan karena kini ia bisa membantu banyak orang lagi seperti biasa.

Adapun Avisahya berucap:

“Siapapun yang tergerak oleh welas asih, siapa pun yang ingin melindungi makhluk yang rentan oleh usia tua dan kematian, akan merelakan dirinya sendiri sebagai derma.”

Antara Altruisme, Welas Asih, dan Kebahagiaan

Pada awal tahun 2000an, para ilmuwan neurosains menemukan seseorang yang kemudian dijuluki oleh media sebagai “orang yang paling bahagia di dunia”. Adapun sebutan ini berdasarkan pada hasil pemindaian MRI yang membuat para ilmuwan merasa takjub: ada aktivitas yang tinggi pada bagian otaknya yang berkaitan dengan tingkat kebahagiaan seseorang (prefrontal cortex bagian kiri). Dan orang itu adalah Matthieu Ricard, seorang akademisi asal Perancis yang kemudian beralih identitas menjadi seorang bhiksu Buddhis.

Lalu, apa rahasia Matthieu Ricard yang kemudian membuat ia dijuluki sebagai “the happiest man in the world”? Jawaban Ricard ternyata bukanlah harta maupun tahta, apalagi Renata; melainkan tiga konsep sederhana: berkesadaran penuh (mindfulness), altruisme, dan welas asih (compassion).

Berbagai riset memang sudah menunjukkan bahwa baik berkesadaran penuh, altruisme, maupun welas asih sangat berperan terhadap kebahagiaan seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan ternyata bukan kita dapatkan ketika kita hanya memikirkan diri sendiri, melainkan ketika kita mampu memikirkan sesuatu yang melebihi kita: kebahagiaan semua makhluk. Dan ini tercermin dari kisah Avisahya yang terpahat dalam relief Candi Borobudur.

Altruisme

Altruisme merupakan sebuah tindakan yang lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri (Hogg & Vaughan, 2018). Seseorang dikatakan altruis jika ia berperilaku demi keuntungan bersama tanpa mengharapkan keuntungan pribadi. Ini adalah sebuah sikap yang tergolong mulia, namun para ahli psikologi masih berdebat bahwa apakah ada manusia yang benar-benar altruis (Batson, 2011). Meski demikian, kita mungkin pernah menemui maupun mendengar kisah tentang seseorang yang pernah hidup di dunia ini dan menunjukkan tindakan-tindakan yang dapat kita golongkan sebagai altruis.

Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa altruisme dapat membuat seseorang merasa lebih bahagia (Musick & Wilson, 2003; Koenig et al., 2007). Hal ini karena ketika seseorang menyadari bahwa ia bisa melakukan sesuatu demi kepentingan orang banyak tanpa mengharapkan apapun, ia mulai merasakan dirinya bermakna. Dan ini sesuai dengan nasihat yang diberikan oleh Matthieu Ricard bahwa altruisme merupakan salah satu praktik yang ia kembangkan. Dalam kisah relief Borobudur di atas, Avisahya menyontohkan altruisme dengan berderma. Avisahya membagikan hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan, dengan sebuah tujuan yang sederhana: untuk meringankan penderitaan orang lain. Ini erat kaitannya dengan welas asih.

Welas Asih

Welas asih atau compassion dapat didefinisikan sebagai sebuah perasaan yang muncul ketika menyaksikan penderitaan orang lain dan memunculkan motivasi untuk membantu meringankannya (Goetz et al., 2010). Dalam psikologi, welas asih akan menggerakan altruisme seseorang, karena welas asihlah yang membuat seseorang terdorong untuk menolong demi meringankan penderitaan orang lain. Welas asih tidak hanya diajarkan dalam psikologi maupun filsafat barat, namun ajaran filsafat timur juga sangat mendorong sikap ini; bahkan welas asih sendiri justru muncul dari ajaran-ajaran filsafat timur. Welas asih merupakan bagian dari catur paramita (empat keluhuran) yang mencerminkan tingkat perkembangan spiritualitas seseorang.

Meski welas asih itu penting bagi perkembangan diri seseorang, tetapi welas asih perlu diimbangi dengan kebijaksanaan. Kita perlu memisahkan penderitaan orang lain dengan penderitaan diri sendiri; dalam arti, kita mungkin tergerak oleh penderitaan orang lain, tetapi jangan sampai kita terlarut dalam penderitaan orang lain dan ikut merasa menderita. Meredakan tangis orang lain tidak berarti kita harus ikut menangis; menolong orang yang sedang terjatuh bukan berarti kita harus ikut terjatuh. Jangan sampai perasaan welas asih ini justru menjadi bumerang bagi kita.

Dalam filsafat Buddhis, welas asih harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Kita tidak bisa mengasihi orang lain tanpa mengasihi diri sendiri sebelumnya. Ajaran ini kemudian tercermin dalam psikologi, dengan istilah self-compassion atau welas diri. Berwelas diri berarti kita menyadari penderitaan yang sedang dialami oleh diri sendiri dan dengan kemudian kita tidak memusuhi diri karena penderitaan itu. Alih-alih membenci diri yang sedang menderita, kita justru berusaha merangkul diri sendiri.

Ini bisa kita pelajari dari Avisahya. Ketika ia kehilangan seluruh harta bendanya, ia tidak menyalahkan maupun membenci dirinya sendiri. Jika ini terjadi pada orang lain, besar kemungkinan orang itu akan meratapi nasibnya dan membenci kondisinya. Namun berbeda dengan Avisahya, ia justru tidak mengalami itu; alih-alih terlarut dalam perasaan kehilangan, ia justru menghadapinya melalui tindakan: mengambil sabit dan bekerja. Ini adalah contoh welas diri yang tergolong hebat. Kita tahu diri kita sedang menghadapi masalah, tetapi kita mengasihi diri sehingga tidak memberikan kesempatan kepada masalah itu untuk merebut akal sehat kita.

Melatih Altruisme dan Welas Asih

Mengetahui pentingnya altruisme dan welas asih, seperti yang dicontohkan oleh Avisahya dan Matthieu Ricard, lantas bagaimana kita melatihnya?

Kuncinya adalah berkesadaran penuh (mindfulness). Menyadari bahwa semua yang terjadi di sekitar kita adalah rentan terhadap perubahan, dan dengan demikian tidak ada yang perlu kita lekati.

Seringkali orang-orang bersikap egois karena berpikir bahwa dirinya abadi, bahwa ia selamanya akan hidup dalam kondisi yang ia nikmati. Kenyataannya, hidup selalu berputar dan berubah. Kelak ketika ia terjatuh, perasaan egois itu akan memukulnya dengan kuat. Namun berbeda dengan orang-orang yang altruis. Menyadari bahwa kehidupan ini rentan dengan perubahan, ia justru memanfaatkan kondisi positifnya untuk membantu orang-orang yang berada dalam kondisi negatif. Dengan membantu orang lain, kita sesungguhnya belajar untuk tidak melekati apapun. Kita belajar untuk merelakan sebagian kepemilikan kita untuk orang lain, baik itu harta, waktu, maupun tenaga. Dengan demikian, kita secara tidak langsung sudah belajar untuk mengikhlaskan.

Luangkanlah waktu sejenak, kemudian sadari bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini rentan terhadap perubahan. Perubahan itu bisa jadi kita kehendaki, bisa jadi tidak kita kehendaki. Bagaimana jika hidup berubah ke arah yang tidak kita kehendaki? Kemudian sadarilah napas yang keluar masuk dari pangkal hidung kita. Sadari bahwa segala kejadian yang ada di kehidupan ini bagaikan napas itu: timbul dan kemudian tenggelam, untuk kemudian timbul lagi, dan tenggelam lagi.

Referensi:

  • Batson, C. (2011). Altruism in humans. NY: Oxford University Press.
  • Goetz, J.L., Keltner, D., & Simon-Thomas, E. (2010). Compassion: An evolutionary analysis and empirical review. Psychological Bulletin, 136, h.351–374.
  • Hogg, M.A., & Vaughan, G.M. (2018). Social psychology (8th ed.). NY: McGraw-Hill.
  • J.S. Speyer. (1895). Jatakamala or Garland of Birth Stories.
  • Musick, M.A., & Wilson, J. (2003). Volunteering and depression: The role of psychological and social resources in different age groups. Social Science & Medicine, 56(2), h.259–269. 
  • Koenig, L.B., McGue, M., Krueger, R.F., Bouchard (2007). Religiousness, antisocial behavior, and altruism: Genetic and environmental mediation. Journal of Personality, 75(2), h.265–290. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *