Kepribadian & Kecanduan Media Sosial

Hal apa yang paling dapat memprediksi kecanduan menggunakan media sosial?

Saya menemukan publikasi hasil penelitian tentang memprediksi kecanduan SNS (social network sites, situs untuk berjejaring secara daring) melalui komponen kepribadian (via big five dan dark triad). Hasilnya cukup menarik.

Selama ini kita mengira bahwa sifat narsisistik yang membuat seseorang kecanduan menggunakan media sosial. Ini memang benar, tetapi ternyata ada satu komponen lagi yang justru bisa memprediksi kecanduan medsos secara signifikan: psikopati.

Pertama-tama, lupakan dulu “psikopat” versi film. Psikopati merujuk pada sifat kurang empati, kurang peka terhadap perasaannya sendiri, dan impulsif (bertindak tanpa berpikir panjang). Definisi ini perlu diingat baik-baik, sebab -akibat film dan media- persepsi masyarakat sudah terbentuk bahwa psikopati sama dengan pembunuh berantai, padahal definisi psikopati bukan seperti itu.

Apa sebab psikopati bisa memprediksi kecanduan medsos? Ternyata sifat impulsif dan kurang empati yang bertanggung jawab atas hal ini. Kurang berpikir panjang membuat seseorang menggunakan medsos secara berlebihan dan tidak terkendali; demikian pula pada orang-orang yang kurang peka terhadap perasaannya sendiri, sehingga mungkin mereka menjadi kurang sadar bahwa atensi dan perasaan mereka sudah melekati medsos. Tapi ini membuat saya sedikit bertanya-tanya, tetapi bukankah banyak juga orang yang menggunakan medsos secara berlebihan untuk curhat mengenai perasaan mereka?

Menariknya, riset ini juga menjelaskan bahwa ada satu komponen kepribadian yang bisa “menjaga” seseorang agar tidak mudah kecanduan medsos, yakni “openness to experience” sifat terbuka terhadap kegiatan dan aktivitas baru.

Dari riset yang saya temukan ini, ada tiga insight yang saya peroleh:

  1. Ternyata bukan sifat narsisistik saja yang bisa membuat seseorang menggunakan medsos secara berlebihan, tetapi sifat impulsif (bertindak tanpa berpikir panjang) juga berperan,
  2. Kurangnya kesadaran / kepekaan terhadap menggunakan medsos juga berperan terhadap kemungkinan terjadinya kecanduan medsos,
  3. Saran “perbanyak aktivitas lain agar tidak bermain medsos terus-menerus” ternyata masih relevan, sekalipun saran ini terdengar sangat klise. Sebab orang-orang yang terbuka dengan aktivitas-aktivitas baru yang justru lebih aman dari kecanduan medsos.

Semoga memberi sedikit informasi bagi yang membacanya.

Referensi:

  • Lee, S. (2019). Predicting SNS addiction with the Big Five and the Dark Triad. Cyberpsychology: Journal of Psychosocial Research on Cyberspace, 13(1), Article 3.
  • Nettle, D. (2007). Personality: What makes you the way you are.  Oxford

[Pertama kali dipublikasikan pada 27 Juni 2021]

Mengenang Albert Bandura: Teori Pembelajaran Sosial

29 Juli 2021. Hari ini psikologi kehilangan salah satu “living legend”-nya yaitu Albert Bandura. Bagi mahasiswa psikologi atau yang gemar membaca buku-buku psikologi seharusnya familiar dengan nama tersebut. Albert Bandura adalah seorang profesor emeritus di Stanford University, dan sangat dikenal dengan “Social Learning Theory” atau “Teori Pembelajaran Sosial” sehingga membuat beliau berada dalam urutan nomor 4 tokoh psikologi yang paling sering dikutip sepanjang masa setelah Burrhus Frederic Skinner, Sigmund Freud, dan Jean Piaget.

Social Learning Theory berbunyi bahwa manusia bisa mempelajari perilaku tertentu melalui pengamatan terhadap sesamanya. Bandura tidak percaya bahwa perilaku manusia hanya dibentuk berdasarkan prinsip reward dan punishment – pandangan yang saat itu sangat dipegang erat oleh para kalangan praktisi dan akademisi psikologi – tetapi ada faktor sosial yang mendasari perubahan atau terbentuknya perilaku. Tentu saja, pada saat itu (sekitar 1970an), social learning theory menjadi salah satu pendekatan baru yang populer dalam menjelaskan perilaku manusia.

Secara singkat, kita akan cenderung meniru atau mengadopsi perilaku dari seseorang yang kita anggap:

1. Berstatus lebih tinggi dari kita: inilah mengapa beberapa orang meniru perilaku atau bahkan gaya hidup dari selebriti maupun tokoh publik idolanya.

2. Lebih kompeten dari kita: misalnya kita ingin belajar perilaku hidup sehat, dan kita melihat seorang dokter mempraktikkan gaya hidup tertentu, kemudian kita mengadopsinya dengan asumsi “dokter yang ngerti saja melakukannya”.

3. Memiliki kesamaan dengan kita: kadangkala kita tidak hanya meniru perilaku seseorang yang berstatus lebih tinggi atau lebih kompeten daripada kita, tetapi juga orang-orang yang memiliki kesamaan dengan kita. Misalnya, ketika kita mengadopsi perilaku atau kebiasaan tertentu yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di sekitar kita.

Melalui social learning theory ini sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita gunakan. Misalnya, jika ingin mengampanyekan suatu sikap, pola pikir, atau gaya hidup tertentu, manfaatkan prinsip ini. Gunakanlah tokoh yang berstatus lebih tinggi atau sosok yang dianggap kompeten untuk menyampaikan informasi tertentu. Bisa juga kemudian dikombinasikan dengan informasi bahwa seseorang yang memiliki kesamaan dengan target audiens juga sudah mempraktikannya dan merasakan manfaatnya.

Rest in peace, Albert Bandura. Saya tidak pernah bertemu, hanya tahu dari buku. Dan sebagai tribute terhadap beliau, saya membuat video penjelasan singkat tentang Social Learning Theory (Teori Pembelajaran Sosial). Semoga bisa bermanfaat, sekaligus mengenang ulang ajaran dari tokoh legendaris psikologi dunia.

Albert Bandura Meninggal 2

Meluruskan Hoax tentang Kebiasaan Terbentuk Selama 21 Hari

Dalam berbagai informasi yang beredar di media sosial, seminar, maupun pelatihan pengembangan diri, sering disampaikan informasi bahwa untuk membentuk sebuah kebiasaan dibutuhkan waktu selama kurang lebih 21 hari. Sayangnya, mereka yang menyebarkan informasi tersebut tidak pernah benar-benar bisa menjelaskan dari mana angka “21 hari” itu berasal, sebagian besar dari mereka juga hanya mendengar informasi dari tempat lain dan mengulanginya, tanpa benar-benar mencernanya dan mencari referensinya.

Kemudian muncul pertanyaan, benarkah informasi tersebut? Apa dasar ilmiah dari pernyataan tersebut?

Setelah melakukan penelusuran, ternyata informasi bahwa kebiasaan terbentuk selama 21 hari pertama kali disampaikan oleh Maxwell Maltz, seorang dokter bedah yang menulis buku “Psycho-Cybernetics” pada tahun 1960.

Analisa Dr. Maltz bermula ketika ia mengamati pola-pola tertentu pada pasiennya. Misalnya, ketika ia melakukan operasi pada hidung pasiennya, ia menemukan bahwa pasiennya membutuhkan waktu sekitar 21 hari hingga terbiasa dengan bentuk hidung barunya. Kemudian ketika Dr. Maltz mengobservasi pasien yang mengalami amputasi kaki atau lengan, ia mengamati bahwa pasien tersebut akan mengalami “phantom limb” dan membutuhkan waktu sekitar 21 hari hingga terbiasa dengan kondisi barunya itu. Dalam buku Psycho-Cybernetics, Dr. Maltz mengatakan:

“… dan banyak fenomena lain yang diobservasi secara umum cenderung menunjukkan bahwa butuh minimal sekitar 21 hari untuk menghilangkan gambaran mental yang lama dan mengentalkan (gambaran mental) yang baru.”

Dan dari sanalah penyebaran informasi bermula. Motivator dan pembicara seminar pengembangan diri terkenal seperti Tony Robbins, Zig Ziglar, dan Brian Tracy kemudian menggunakan pernyataan tersebut untuk menyampaikan bahwa sebuah kebiasaan membutuhkan waktu minimal 21 hari untuk terbentuk. Tetapi masalah justru dimulai dari sini, orang-orang hanya mencatat 21 harinya, dan tidak menyampaikan bahwa 21 hari itu adalah angka minimal.

Jelas sekali Dr. Maltz mengatakan bahwa dibutuhkan minimal 21 hari untuk membentuk kebiasaan baru, namun pernyataan tersebut berubah menjadi “butuh 21 hari untuk membentuk kebiasaan baru” ketika disebarkan di media sosial maupun seminar-seminar motivasi.

Namun pertanyaan lain muncul: Apakah pernyataan Dr. Maltz tersebut benar? Apakah sudah ada bukti ilmiah yang mendukungnya?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Phillipa Lally dari University College London dan koleganya – yang kemudian dipublikasikan pada tahun 2009 – menemukan bahwa sebuah kebiasaan terbentuk sekitar 18 hingga 254 hari. Angka ini diperoleh dari 96 partisipan yang diminta untuk memulai sebuah kebiasaan baru dan wajib melapor kepada peneliti perkembangan dari kebiasaan yang sedang dibentuk tersebut sampai perilaku tersebut menjadi “otomatis”. Laporan dari ke-96 orang tersebut bervariasi, yakni 18 hingga 254 hari tersebut. Bila angka tersebut dirata-ratakan, diperoleh angka sekitar 66 hari untuk membentuk kebiasaan baru. Dengan kata lain, dibutuhkan lebih dari 2 bulan hingga sebuah perilaku menjadi otomatis, menjadi sebuah kebiasaan. Bukan 21 hari seperti yang dikatakan oleh para influencer dan motivator tersebut.

Jadi, apa pelajaran yang bisa kita peroleh dari penelusuran ini?

  1. Angka “21 hari” bukan sebuah “angka emas”. Memang benar ada yang bisa membentuk kebiasaan baru selama 21 hari, tetapi ada juga yang membutuhkan jauh lebih lama dari 21 hari. Berdasarkan riset dari Philippa Lally dari University College London, angka paling singkat adalah 18 hari, angka yang paling lama adalah 254 hari, dan nilai tengahnya adalah 66 hari. Sangat bervariasi.
  2. Variasi tersebut bisa berdasarkan beberapa aspek: (a) seberapa besar keinginan kita untuk memiliki kebiasaan tersebut, (b) seberapa relevan kebiasaan tersebut untuk muncul di dalam hidup kita, dan (c) seberapa sulit kebiasaan tersebut untuk dimunculkan, mengacu pada aspek internal dan eksternal diri kita.
  3. Jika Anda sudah melakukan sebuah perilaku atau aktivitas selama 21 hari dan aktivitas tersebut masih belum menjadi otomatis, maka tidak ada yang salah. Anda masih punya sekitar 230an hari lagi untuk melanjutkannya.

Tetapi, daripada kita memusingkan berapa lama sebuah kebiasaan bisa terbentuk, lebih baik kita memusingkan hal lain yang jauh lebih penting: kebiasaan positif apa yang ingin Anda bentuk dan kapan Anda akan memulainya?

(Baca juga: 4 Pelajaran Penting dari Buku Atomic Habits)

Referensi:

  • Lally, P., Jaarsveld, C.H.M., Potts, H.W.W., & Wardle, J. (2009). How are habis formed: Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology, 40(6), h.998-1009.
  • Maltz, M. (1960). Psycho-cybernetics. Simon & Schuster.
teori-kebiasaan-21-hari

Salah Kaprah 4 Tipe Kepribadian (Temperamen)

Sanguinis, koleris, melankolis, dan phlegmatis. Empat kata itu sudah menjadi sangat familiar, bahkan sering menjadi bahan pembahasan tentang karakter dan kepribadian manusia. Menariknya, dalam pendidikan psikologi sendiri konsep ini hanya disebutkan sekilas pada semester 1 dan setelah itu tidak dibahas lagi sama sekali.
Mengapa?

Alasan utamanya adalah konsep 4 temperamen tersebut sudah sangat out of date, bahkan konsep ini disebut sebagai teori proto-psychology, karena memang sudah ada sebelum ilmu psikologi ada. Kelahiran konsep ini bisa ditarik mundur ke ribuan tahun lalu, di masa Hippocrates hidup sekitar 460-370 Sebelum Masehi. Mula-mula Hippocrates menyatakan bahwa ada empat cairan yang mempengaruhi perilaku dan emosi manusia, yakni: darah (sanguine), empedu kuning (melan), empedu hitam (choler), dan lendir (phlegm). Kekurangan atau kelebihan salah satu dari keempat cairan itu akan menyebabkan permasalahan emosi maupun perilaku, misalnya, kelebihan darah (sanguine) akan membuat seseorang berperilaku terlalu aktif, dan dengan demikian kadar darahnya harus dikurangi untuk menyeimbangkannya; sedangkan kekurangan darah akan membuat seseorang kehilangan energi. Contoh lain, kelebihan lendir (phlegm) akan membuat seseorang menjadi lebih pasif, dan demikian harus dikurangi untuk menyeimbangkannya.

Mulai dapat suatu insight dari sini?

Kemudian Galen, yang hidup sekitar 129-200 Masehi, menggunakan konsep tersebut untuk menjelaskan dampak fisiologis terhadap perilaku manusia. Melalui bukunya yang berjudul “De Temperamentis”, munculah istilah sanguinis, koleris, melankolis, dan phlegmatis yang didasarkan pada keempat jenis cairan tubuh manusia ini.
Kemudian konsep ini terus digunakan, dan mungkin adalah Florence Littauer yang pada tahun 1980an mempopulerkan konsep empat temperamen ini zaman modern melalui buku “Personality Plus”.

Kembali ke pertanyaan, mengapa psikologi tidak banyak mendalami konsep ini? Karena teori dan tipologi kepribadian manusia sudah berkembang jauh melebihi konsep empat temperamen ini. Ada penggolongan extrovert-introvert yang dikonsepkan oleh Carl Gustav Jung, yang kemudian menginspirasi Isabel Myers dan Katharine Briggs merumuskan 16 tipe kepribadian yang kita kenal dengan MBTI pada tahun 1917. Ada lagi penggolongan DISC yang juga tak kalah populernya, dicetuskan oleh William Marston pada akhir tahun 1920an. Belum lagi Enneagram, Holland Codes yang kini difungsikan juga untuk mengidentifikasi minat, 16 Personality Factors, dan lain-lain. Ada banyak sekali tipologi (penggolongan) kepribadian yang beberapa telah melalui rangkaian proses pembuktian secara ilmiah (beberapa tidak terbukti ilmiah / hanya pseudoscience). Jika sudah ada banyak teori-teori kepribadian modern yang lebih relevan, mengapa harus kembali kepada teori yang usianya sudah hampir 3000 tahun yang lalu?

Selanjutnya, penggolongan kepribadian ke dalam 4 tipe juga memiliki masalah: manusia tidak mungkin hanya bisa digolongkan menjadi 4 macam!

Artinya begini, sesungguhnya tidak ada manusia yang murni koleris, murni sanguinis, murni melankolis, atau murni phlegmatis. Empat temperamen ini bukan berbicara tentang empat tipe manusia, tetapi berbicara tentang empat sifat yang ada di dalam satu orang manusia. Satu orang memiliki keempatnya!

Kata “temperamen” sendiri, seperti yang digunakan oleh pencetus teori ini (Galen), berasal dari bahasa Latin “temperare” yang berarti “mencampur”. Keempat sifat itu bercampur ke dalam satu struktur kepribadian manusia. Sehingga, saya maupun Anda memiliki keempatnya. Saya bisa menjadi sanguinis dalam konteks tertentu, bisa menjadi koleris dalam konteks lain, bisa juga menjadi melankolis dalam situasi lain, dan menjadi phlegmatis dalam situasi tertentu lagi.

Dengan demikian, mengidentifikasi diri dengan satu temperamen saja adalah langkah yang salah, karena kita akan menggunakan keempatnya, dalam berbagai konteks tergantung situasinya. Saya memiliki sisi periang, perfeksionis, pemimpin, dan pecinta damai bergantung situasinya. Bukankah Anda juga dalam hal yang Anda sangat suka, biasanya akan perfeksionis dan antusias?

Lagipula, penggunaan 4 temperamen ini juga melenceng dari seharusnya. Pengetahuan tentang diri dan kepribadian sehendaknya digunakan untuk mengembangkan diri, tetapi praktik yang terjadi dalam masyarakat justru berbeda: mereka menggunakan konsep kepribadian ini untuk membenarkan kekurangan mereka!

  • (“Karena saya sanguinis, wajar jika saya selalu berisik dan tidak empatik”)
  • (“Karena saya melankolis, wajar jika saya sedih dan selalu merasa curiga”)
  • (“Karena saya koleris, wajar jika saya berbuat kasar dan tidak peduli alasan orang”)
  • (“Karena saya phlegmatis, wajar jika saya malas dan tidak bersemangat”)

Padahal penggunaan seperti itu adalah salah, karena, lagi-lagi, kita semua punya keempatnya! Dan dengan pengetahuan ini, justru seharusnya kita berfokus pada kelebihan temperamen yang sedang kita gunakan, sambil sekaligus mengabaikan sisi lemahnya.

  • Gunakan sisi sanguinis Anda untuk menceriakan suasana, jika memang suasana yang dibutuhkan adalah ceria.
  • Gunakan sisi melankolis Anda untuk mengerjakan sesuatu dengan standar yang tinggi, jika memang hal yang dikerjakan itu memang berkepentingan tinggi.
  • Gunakan sisi koleris Anda untuk mengambil keputusan yang tepat dan menggerakan tim Anda, jika memang sedang berada dalam situasi genting atau jika Anda yang ditugaskan sebagai ketua.
  • Gunakan sisi phlegmatis Anda untuk menciptakan suasana damai dan tenang, jika memang sedang ada konflik atau memang Anda sedang bersantai.

Atau, lebih baik, berhenti mengidentifikasi diri berdasarkan keempat temperamen itu, lebih baik kita identifikasi secara langsung apa kekuatan kita dan kita manfaatkan.

Mungkin bermanfaat.

Tiga Alasan Otak Kita Bekerja Lebih Baik Pada Pagi Hari, Tapi Tidak Selalu

Salah satu pesan terpenting dari buku “Eat That Frog”, buku tentang produktivitas yang ditulis oleh Brian Tracy, adalah: tugas pertama yang harus mulai dikerjakan di awal hari adalah tugas yang paling penting dan paling sulit. Alasan Tracy, jika kita tidak segera memulainya, kita akan terus menunda tugas sulit itu dengan mengerjakan tugas-tugas lainnya yang mungkin tidak se-urgent tugas tersebut.

Mendadak saya teringat dengan salah satu tokoh klasik psikologi, Hermann Ebbinghaus (1850-1909), yang melakukan sebuah eksperimen dan menemukan bahwa kita lebih cepat mengingat dan mempelajari sesuatu di pagi hari dibandingkan pada tengah hari dan malam hari. Teman-teman yang pernah kuliah psikologi pasti sudah familiar dengan eksperimen ini, yang kemudian mempopulerkan konsep “Ebbinghaus Forgetting Curve”. Ada di mata kuliah psikologi kognitif, kalau tidak salah.

Dari sini kita bisa melihat benang merah antara eksperimen Ebbinghaus dengan nasihat dari Tracy. Pagi hari adalah waktu terbaik untuk melakukan tugas-tugas yang sangat membutuhkan proses berpikir. Ternyata hal yang sama juga pernah diutarakan oleh Simon Folkard, seorang akademisi dari Laboratory of Experimental Psychology di University of Sussex. Folkard menguji kemampuan berlogika manusia pada enam waktu yang berbeda, dari pukul 08.00 sampai 23.00, dengan interval 3 jam. Hasilnya, tentu saja, selaras: kemampuan bernalar (berpikir logis) manusia meningkat dari pagi hingga mencapai menjelang siang hari, kemudian terus menurun sampai malam hari. Baik Ebbinghaus, Folkard, maupun Tracy memberikan insight yang sama: daya berpikir logis kita bekerja lebih baik di pagi hari daripada malam hari.

Ada beberapa alasan mengapa otak kita bekerja lebih baik di pagi hari daripada malam hari:

  1. Ketika kita bangun tidur, suhu tubuh kita perlahan meningkat. Peningkatan suhu tubuh ini juga secara perlahan meningkatkan tingkat kesadaran dan kewaspadaan kita, yang kemudian meningkatkan “executive functioning”, atau kemampuan kita untuk berkonsentrasi dan berpikir deduktif.
  2. Daya atensi dan konsentrasi otak memiliki batas. Seiring dengan bergeraknya hari dari pagi ke siang, sore, dan malam; otak kita juga akan “lelah” dan membutuhkan istirahat. Mungkin analogi berlari bisa menjelaskan ini: saat sedang berlari, kita masih memiliki kecepatan penuh di awal, mamun semakin lama berlari, kecepatan kita akan melambat karena kelelahan. Otak juga memiliki mekanisme seperti ini dalam bekerja.
  3. Adanya fenomena “ego depletion”, yakni willpower maupun kontrol diri kita akan menurun dari pagi hingga malam hari. Dengan demikian, kita lebih memiliki kemauan untuk berupaya serta kemauan untuk mendisiplinkan diri pada pagi hari daripada malam hari. Secara psikologis, malam hari lebih terasa sebagai “waktu beristirahat” daripada “waktu bekerja”.

Dengan demikian, waktu terbaik untuk mengerjakan tugas-tugas sulit adalah pada pagi hari hingga menjelang siang hari.

Namun apakah sesederhana itu?

Ada catatan lagi yang perlu diperhatikan. Ternyata tidak semua tugas cocok dilakukan pada pagi hari. Daniel Pink, dalam buku “When: The Scientific Secrets of Perfect Timing”, mengatakan bahwa hanya tugas-tugas analitis yang memerlukan kemampuan penalaran tinggi yang dapat dilakukan dengan sangat baik oleh otak kita di pagi hari; sedangkan untuk tugas-tugas yang membutuhkan kreativitas dan inovasi, justru pagi hari bukan waktu yang terbaik, melainkan malam hari. Psikolog Mareike Wieth dan Rose Zacks melakukan eksperimen dengan memberikan pertanyaan yang membutuhkan kemampuan berpikir dari perspektif lain, dan ternyata sebagian besar orang bisa menyelesaikannya bukan pada pagi hari, melainkan pada sore hari, di saat mereka tidak berada dalam kondisi optimal mereka. Temuan ini kemudian disebut secara populer sebagai “Inspiration Paradox” (Paradoks Inspirasi), bahwa otak kita akan lebih kreatif dan inovatif saat kita sedang tidak berada dalam kondisi terbaik kita. Tiba-tiba saya berpikir, mungkin ini juga yang memunculkan fenomena “The Power of Kepepet”, yakni ketika kita berada dalam kondisi kepepet, otak kita mendadak kreatif dan memunculkan banyak ide baru.

Maka dari berbagai uraian ini, ada dua hal yang bisa kita pelajari:

  1. Untuk mengerjakan tugas-tugas yang membutuhkan daya analisa dan daya berlogika yang kuat, pagi hari adalah waktu yang terbaik,
  2. Sedangkan untuk mengerjakan tugas-tugas yang membutuhkan kreativitas dan inovasi, sore hari adalah yang waktu yang lebih baik.

Jika dua hal ini dipahami, kita bisa mulai mengelola waktu kerja kita berdasarkan kemampuan otak kita ini. Memang tidak 100% waktu kerja kita bisa kita kendalikan, karena kita harus berkoordinasi dengan atasan, tim, maupun kolega. Setidaknya, jika memungkinkan dan memiliki pilihan, maka kita sudah tahu harus memilih mengalokasikan tugas apa pada waktu apa. Dengan demikian, kita bisa mendorong diri kita untuk mengaktualisasikan potensi performa terbaik kita.

Sebenarnya insight di atas akan lebih maksimal lagi jika kita memahami konsep chronotype, di mana kita bekerja tidak hanya berdasarkan dua prinsip di atas, tetapi berdasarkan irama sirkadian kita. Nampaknya ini lebih sulit diterapkan di Indonesia, di mana sebagian besar kantor sudah memiliki jam masuk dan jam pulang kerja yang nyaris seragam, mungkin para wirausaha (entreprenur) atau freelancer yang lebih bisa menerapkan chronotype ini. Tapi kapan-kapan mari kita bahas juga, karena menurut saya ini konsep yang menarik sekali.

Sambil menunggu, mungkin bisa terapkan dua hal tadi dulu, sambil mengamati hasilnya dan bisa diceritakan kepada saya.

Sekian.

Referensi:

  • Folkard, S. (1975). Diural variaton in logical reasoning. British Journal of Psychology, 66(1), h.1-8.
  • May. C. (2021, 6 Maret). The inspiration paradox: Your best creative time is not when you think. Diakses pada 2021, 6 Juni, dari Scientific American.
  • Pink, D.H. (2018). When: The scientific secrets of perfect timing. Riverhead Books.
  • Tracy, B. (2001). Eat that frog! Berrett-Koehler Publishers.
  • Wieth, M.B., & Zacks, R.T. (2011). Time of day effects on problem solving: When the non-optimal is optimal. Thinking & Reasoning, 17(4), h.387-401.

Dari Buku Blink, Saya Belajar Tentang Psikologi di Balik Intuisi

Belakangan ini saya baru saja selesai membaca sebuah buku yang sudah lama ingin saya selesaikan. Buku ini berjudul “Blink”, ditulis oleh Malcolm Gladwell dan terbit pada tahun 2005. Meski sudah “berusia” 16 tahun, buku ini adalah buku yang masih sering direkomendasikan oleh banyak pembelajar psikologi. Oleh sebab itulah saya masih tetap berusaha menuntaskan membaca buku ini.

Malcolm Gladwell menulis bukunya dengan gayanya yang seperti biasa: penuh contoh dan kasus sebagai konteksi. Gaya menulisnya deskriptif sekali, mungkin karena latar belakang Gladwell yang adalah seorang jurnalis.

Adanya Sistem Berpikir Cepat yang Tidak Disadari

Gladwell mengawali buku ini dengan kisah patung Getty Kouros, di mana patung tersebut akan dibawa dan dipajang di Getty Museum di California. Para kurator menilai patung tersebut dan menilainya sebagai asli; namun seorang kepala museum bernama George Despinis mengamati patung tersebut dan dengan cepat menyatakan bahwa patung ini palsu. Belakangan, setelah melalui penelusuran lebih lanjut, patung itu ternyata benar-benar palsu.

Menariknya, Despinis mengetahui patung tersebut palsu dengan singkat segera setelah melihatnya saja.

Cerita tersebut kemudian dilanjutkan dengan kisah tentang Vic Braden, seorang pelatih tenis profesional yang dapat memprediksi seseorang akan melakukan double-fault atau tidak hanya dengan melihat orang itu melambungkan bola ke udara dan menarik mundur raketnya. Dan prediksinya seringkali akurat. Menariknya, Braden tidak dapat menjelaskan bagaimana ia dapat memprediksi hal tersebut. Ia tidak melakukan itu secara sadar.

Contoh-contoh di atas oleh Gladwell digunakan untuk menunjukkan bahwa adanya proses berpikir cepat dilakukan oleh pikiran kita tanpa kita sadari. Gladwell sendiri menggunakan istilah “thin-slicing”, sedangkan dalam kalangan akademik proses ini disebut sebagai “adaptive unconscious”: proses mental yang bekerja dengan cepat dan otomatis berdasarkan informasi yang sedikit. Kadangkala kita menyebut proses itu sebagai “intuisi”, suatu pemikiran yang terjadi dengan cepat dan muncul begitu saja tanpa kita ketahui asal-usul pemikiran tersebut.

Konsep ini sebenarnya sudah dibahas dalam berbagai buku, terutama buku “Thinking: Fast and Slow” yang ditulis oleh Daniel Kahneman dan “Nudge” dari Richard Thaler. Namun kedua buku tersebut sesungguhnya muncul setelah buku Blink diterbitkan, sehingga jika kita melihat konteks waktu saat buku ini terbit, sesungguhnya buku ini menyajikan konsep yang masih segar pada masanya.

Mengandalkan Thin-Slicing dapat Menghemat Upaya Kita

Sesungguhnya thin-slicing ini bukanlah hal yang asing bagi pikiran kita. Kita sudah sering melakukannya, terlepas dari akurat atau tidak hasil penilaian cepat kita itu. Dalam kehidupan sehari-hari, thin-slicing atau adaptive unconscious ini kita sebut sebagai “intuisi”. Namun pertanyaannya adalah, mengapa keberadaan thin-slicing itu penting untuk dibahas?

Pada dasarnya thin-slicing dapat menghemat upaya kita. Seringkali tidak memerlukan informasi yang lebih banyak untuk mengambil sebuah keputusan, bahkan sesungguhnya informasi yang sedikit saja sudah bisa membantu banyak penilaian kita.

Seorang peneliti bernama Samuel Gosling, bersama rekan penelitinya, ingin mengetahui apakah informasi yang terbatas mengenai seseorang dapat memberikan penilaian yang akurat. Gosling mengumpulkan 80 orang mahasiswa, kemudian meminta teman dekat dari setiap mahasiswa tersebut untuk mengisi angket yang mendeskripsikan kepribadian mereka. Setelah itu, Gosling mengumpulkan orang-orang yang benar-benar asing terhadap 80 orang mahasiswa yang ia kumpulkan sebelumnya. Gosling membawa orang-orang asing tersebut untuk melihat-lihat kamar seorang mahasiswa selama 15 menit, kemudian meminta orang-orang tersebut untuk menilai kepribadian sang mahasiswa penghuni kamar. Hasil ini kemudian dibandingkan dengan penilaian dari teman dekat. Hasilnya, baik penilaian dari teman dekat maupun orang asing (yang melihat kamarnya selama 15 menit) memberikan hasil yang tidak jauh berbeda.

Dari penelitian di atas bisa kita peroleh simpulan bahwa tidak perlu mengenal seseorang berlama-lama untuk mengetahui deskripsi kepribadiannya. Seringkali memiliki informasi yang sangat banyak tentang suatu hal belum tentu lebih baik dari memiliki informasi yang relatif lebih sedikit. Inilah peran penting dari thin-slicing.

Namun Thin-Slicing juga bisa Berbahaya

Tetapi thin-slicing tidak selalu menguntungkan, justru bisa saja berbahaya. Warren Harding, presiden Amerika Serikat yang ke-29, seringkali disebut sebagai presiden terburuk dalam sejarah Amerika Serikat. Ia gemar bermain poker, minum hingga mabuk, dan merayu perempuan. Terlepas dari itu, sebagai pemimpin, ia peragu dan plin-plan bila berbicara mengenai kebijakan, sebuah karakter yang menyulitkannya menjadi pemimpin yang efektif. Namun mengapa ia terpilih?

Harding ditunjuk menjadi calon presiden dari Partai Republik, ketika konvensi menemui jalan buntu untuk memilih calon presiden di antara dua bakal calon yang sudah dijagokan. Konvensi kemudian berusaha mencari calon alternatif dan nama Warren Harding disebut. Alasan yang digunakan menarik: ia dianggap memiliki penampilan yang cocok sebagai calon presiden: alisnya tebal, warna rambutnya keperakan, dan bahunya tegap. Penampilan yang memberikan kesan tangguh dan karismatik.

Namun sejarah berbicara lain.

Kisah ini merupakan contoh dari sisi gelap thin-slicing. Warren Harding dicalonkan sebagai presiden melalui proses yang singkat, dan ternyata thin-slicing tidak selalu memberikan efek baik. Contoh lain adalah ketika peneliti Levinson mempelajari kasus-kasus tuntutan kepada dokter. Meski dokter-dokter tersebut dituntut karena dianggap lalai dalam menjalankan tugas, tetapi ketika dibedah kembali, alasan utama pasien-pasien itu menuntut bukanlah karena kelalaian dokter, tetapi karena dokter tersebut dianggap kurang ramah. Dokter-dokter yang kurang akurat dalam memberikan penanganan, tetapi bersikap ramah, ternyata tidak dituntut; sebaliknya dokter-dokter yang melakukan prosedur dengan benar tetapi sikapnya tidak ramahlah yang justru dituntut. Hal ini karena pasien hanya melakukan penilaian secara singkat saja.

Inilah sisi gelap dari thin-slicing.

Hanya Andalkan Intuisi seorang Pakar

Jika thin-slicing bisa membantu kita mengambil keputusan secara singkat namun juga bisa salah, lantas bagaimana kita memanfaatkan thin-slicing? Gunakanlah thin-slicing jika Anda adalah seorang pakar atau Anda memiliki pengalaman yang tinggi dalam bidang tersebut. Misalnya jika Anda adalah seorang ahli mesin, intuisi Anda dalam hal mesin dapat dipercaya; tetapi tidak dengan intuisi Anda dalam hal lain seperti kesehatan, memasak, atau mengasuh anak. Demikian juga jika Anda ingin mempercayai thin-slicing atau intuisi orang lain, percayailah intuisi dari seorang pakar atau yang sudah berpengalaman dalam hal tersebut.

Celakanya, banyak orang-orang yang bukan pakar tetapi mengandalkan intuisinya dalam mengambil keputusan.

Pembelajaran yang Saya Petik

  • Pepatah menyarankan don’t judge book by its cover, tetapi nyatanya orang-orang judge book by its cover. Banyak orang menilai kita hanya secara sekilas (thin-slicing), oleh karena itu berpenampilanlah dengan pantas agar orang tidak menilai rendah kita.
  • Dalam mengambil keputusan, kita tidak selalu membutuhkan informasi yang sangat banyak. Cukup kumpulkan informasi yang relevan dan secukupnya. Informasi yang terlalu banyak justru akan membingungkan.
  • Jika kita memang berpengalaman dalam hal itu, intuisi kita bisa dipercaya.
  • Jangan mudah percaya ucapan seseorang bukan pakar yang berdasarkan intuisinya saja.

Penutup

Kita memang tidak serasional yang kita kira, dan kita sering mengandalkan penilaian sesaat. Mari mulai untuk lebih bisa memilah pada konteks apa saja kita boleh mengandalkan intuisi kita dan tidak.

5 Life Wisdom dari Warren Buffett, Tidak Melulu Soal Uang

Warren Buffett baru saja berulang tahun yang ke-90 pada tanggal 30 Agustus 2020. Sebagai seorang milyuner dan tokoh besar dalam investasi, Warren Buffett telah berkali-kali diwawancarai oleh berbagai media mengenai kisah hidup dan pemikirannya. Coba saja googling atau mengetikkan namanya di mesin pencari, akan muncul ribuan artikel maupun video tentang dirinya. Saking banyaknya, mungkin kita tidak akan punya waktu untuk mencerna semua konten tersebut. Namun, di antara berbagai hasil wawancara tersebut, ada lima life wisdom yang menjadi benang merah dari ajaran Buffett, dan ternyata tidak selalu tentang uang maupun investasi. Apa sajakah kelima life wisdom tersebut?

1. Berinvestasilah pada diri sendiri

“Sejauh ini investasi yang terbaik adalah kepada dirimu sendiri,” ucap Buffett dalam salah satu wawancaranya bersama Yahoo Finance.

Maksudnya adalah berinvestasi untuk meningkatkan keterampilan kita, baik softkill maupun hardskill. Lebih spesifik lagi, Buffett menekankan pentingnya untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi, “Belajar untuk berkomunikasi dengan lebih baik, secara lisan maupun tulisan.” Memiliki keterampilan komunikasi yang baik akan meningkatkan value kita berkali-kali lipat di mata orang. Ikuti pelatihan tentang kepribadian atau perbanyak bergaul dengan orang-orang yang berada di atas kita. Secara tidak langsung, cara berkomunikasi kita akan mengikuti gaya mereka.

Lalu, berinvestasi ilmu bukan berarti harus mengambil gelar di universitas. Anda juga bisa mengikuti pelatihan-pelatihan yang relevan dengan bidang dan tujuan anda. Ikuti pelatihan layaknya anda sedang membeli instrumen investasi: pertimbangkan apakah pelatihan itu akan memberikan manfaat bagi anda dan bagaimana materi dari pelatihan itu dapat anda terapkan dalam hidup anda.

Tips:

  • Siapkan anggaran untuk berinvestasi ilmu, seperti membeli buku atau mengikuti kelas-kelas yang relevan dengan tujuan kita,
  • Anda juga bisa belajar secara gratis, saat ini tersedia banyak sekali artikel maupun video berkualitas yang mengajarkan anda bidang ilmu tertentu,
  • Gunakan sebagian besar waktu luang anda untuk belajar.

2. Rawatlah tubuh dan pikiran anda

Buffett juga menekankan pentingnya untuk menjaga tubuh dan pikiran kita. Seperti yang kita tahu, Buffett memprioritaskan olahraga di dalam jadwal hariannya serta selalu menjaga agar ia memiliki waktu tidur yang cukup. Alasannya sederhana, kita bisa memiliki tubuh dan pikiran hanya satu kali dalam kehidupan ini

“Anda mendapatkan tepat satu pikiran dan satu tubuh di dunia ini, dan Anda tidak dapat mulai merawatnya ketika kamu berusia 50. Pada saat itu, Anda akan ‘berkarat’ jika tidak melakukan apa pun,” ucap Buffett dalam salah satu videonya. Kesehatan adalah kekayaan yang paling berharga, jagalah dengan sebaik mungkin!

Tips:

  • Siapkan anggaran untuk kesehatan fisik dan mental anda,
  • Luangkan waktu untuk berolahraga,
  • Miliki waktu istirahat dan jam tidur yang cukup.

3. Bertemanlah dengan orang-orang yang “berkualitas tinggi”

Dalam buku “Getting There: A Book of Mentors” yang ditulis oleh Gillian Zoe Segal mengenai wawancaranya bersama Buffett, tertulis bahwa:

“Salah satu hal terbaik yang dapat Anda lakukan dalam hidup adalah mengelilingi diri Anda dengan orang-orang yang lebih baik dari Anda.”

Tuliskan lima nama orang yang paling sering berinteraksi dengan anda, dan dari sana anda akan melihat kemiripan antara anda dengan mereka. Kita dan orang-orang di sekitar kita saling memengaruhi; kita akan menularkan pemikiran kita kepada mereka sambil mengadopsi pemikiran mereka pula ke dalam hidup kita. Bayangkan jika anda dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki pemikiran serta kemampuan yang hebat, maka anda juga akan mengadopsi pemikiran-pemikiran mereka ke dalam diri anda!

Bergaul dengan orang-orang yang berkualitas tinggi akan membuat kita bertindak layaknya mereka; jangan lakukan sebaliknya. Hal ini juga ditekankan oleh Buffett: “Jika Anda bergaul dengan orang-orang yang berperilaku lebih buruk dari Anda, Anda akan segera ditarik ke arah itu. Begitulah cara kerjanya.”

Tips:

  • Bergabunglah ke dalam komunitas yang relevan dengan tujuan hidup anda, di sana anda akan bertemu orang-orang yang berpengalaman dan anda bisa bergaul dengan mereka,
  • Carilah mentor untuk diri anda,
  • Perbanyak mengikuti kegiatan-kegiatan publik yang sesuai dengan tujuan anda, di sanalah kemungkinan besar anda akan bertemu dengan orang-orang hebat dalam bidang anda.

4. Nikahi orang yang tepat

Siapa sangka, bagi seorang milyuner seperti Buffett, keputusan terbesar dalam hidupnya bukanlah tentang uang maupun investasi, melainkan tentang memilih pasangan hidup.

Dalam sebuah pertemuan Hathaway pada tahun 2009, Buffett pernah berkata, “Menikahlah dengan orang yang tepat. Saya serius tentang ini. Ini akan membuat lebih banyak perbedaan dalam hidup Anda, mengubah aspirasi Anda, semua jenis hal.”

Pasangan Anda akan sangat berpengaruh terhadap hidup Anda. Sebagian besar waktu Anda akan dihabiskan dengannya, dan tentu Anda tidak ingin menghabiskan sisa waktu dengan orang yang tidak tepat untuk anda, bukan?

Dalam sebuah percakapan bersama Bill Gates pada tahun 2017, Buffett berkata, “Dan sejauh ini, orang yang terpenting dalam hal ini adalah pasangan Anda. Saya tidak bisa melebih-lebihkan lagi betapa pentingnya hal itu.”

Tips:

  • Pasangan yang tepat adalah pasangan yang dapat memahami anda dan dipahami oleh anda,
  • Jangan terburu-buru mencari pasangan, kadangkala tuntutan sosial membuat kita lupa dengan apa yang sesungguhnya membuat kita bahagia,
  • Menikahlah ketika anda siap secara emosional dan finansial, bukan karena tuntutan.

5. Uang bukan segalanya

Bagaimana Warren Buffett, sebagai salah satu orang terkaya, memandang uang? Ternyata Buffett menilai bahwa uang bukanlah penentu kebahagiaan; melainkan cinta.

“Mendapatkan cinta tanpa syarat adalah kebaikan terbesar yang bisa Anda peroleh,” ucapnya dalam sebuah seminar kepada para mahasiswa S2 administrasi bisnis.

Memang benar, nyatanya dalam berbagai riset psikologi ditemukan bahwa penentu utama kebahagiaan adalah hubungan yang positif dengan sesama. Uang juga bisa membuat bahagia, namun ketika kita menggunakan uang tersebut untuk membantu sesama (membuat anda merasa bermakna). Berada di sekitar orang-orang yang kita cintai & mencintai kita adalah kebahagiaan yang amat besar.

Namun perlu dicatat, bukan berarti Anda tidak butuh uang. Anda tetap memerlukan uang, namun untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anda. Kebahagiaan manusia akan turun drastis ketika kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi; namun ketika kebutuhannya sudah terpenuhi, uang tidak lagi menjadi penentu kebahagiaan.

Tips:

  • Anda memang perlu mencari uang, tetapi jangan jadikan uang sebagai tujuan hidup anda,
  • Luangkan waktu untuk keluarga dan orang-orang yang Anda kasihi,
  • Bangunlah relasi yang baik dengan sesama.

Hidup adalah tentang mengembangkan diri dan cinta kasih

Kelima nasihat di atas jika dikonklusikan akan menjadi dua poin, yakni: (1) mengembangkan diri, dan (2) cinta kasih. Kembangkanlah diri anda dengan berinvestasi, merawat diri, dan bergaul dengan orang-orang yang berkualitas tinggi; sedangkan di sisi lain cinta kasih bisa anda peroleh melalui pasangan yang tepat dan berada di antara orang-orang yang anda cintai.

Inilah lima life wisdom dari salah satu orang terkaya di dunia, dan menariknya tidak selalu tentang uang. Mungkin memberi inspirasi bagi anda?

4 Pelajaran Penting dari Buku Atomic Habits

Tidak dapat saya pungkiri, buku Atomic Habits merupakan salah satu buku terbaik yang membahas habits (kebiasaan) yang pernah saya baca. Pengakuan ini tidak hanya datang dari saya, tetapi status bestseller yang diperoleh dari berbagai negara juga menjadi validasi bahwa buku ini memang luar biasa. Apa yang membuat buku ini sangat berharga adalah tiga hal: (1) disertai dengan bukti-bukti riset yang ilmiah, (2) tetapi dinyatakan dalam kalimat-kalimat praktis yang mudah dipahami, dan (3) saran dari buku ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya sangat menyarankan Anda untuk memiliki buku ini, atau minimal membacanya di perpustakaan terdekat. Sebagai teaser, saya akan sedikit mengulas buku ini. Sesuai dengan judul bukunya, Atomic Habits, buku ini membahas tentang bagaimana membentuk kebiasaan baik dalam hidup. Kata “atomic” dalam judul buku ini diambil dari premis yang diangkat James Clear bahwa sedikit kemajuan dalam hidup, sedikit demi sedikit, akan memberikan hasil yang besar.

Ada empat pelajaran penting yang saya peroleh dari buku ini, yang menjadi catatan saya dan kini saya bagikan untuk Anda:

1. Persepsi kita tentang identitas diri bisa mempengaruhi habits kita

“Sulit untuk mengubah kebiasaan Anda jika Anda tidak pernah mengubah keyakinan dasar yang mengarahkan perilaku Anda di masa lalu.” (h.33)

James Clear menyebutkan bahwa ada tiga lapisan dalam perubahan perilaku yang perlu kita pahami: Lapisan pertama adalah hasil, yakni di mana kita masih berkonsentrasi pada hasil yang kita inginkan seperti mengurangi berat badan, berhenti merokok, rajin bermeditasi, dan sebagainya. Lapisan kedua adalah proses, yakni di mana kita mulai mengimplementasikan rutinitas baru kita untuk mencapai hasil tersebut. Misalnya dengan mulai rutin datang ke gym, mulai meluangkan waktu untuk bermeditasi, atau mengikuti program terapi berhenti merokok. Adapun yang terpenting adalah lapisan ketiga atau lapisan identitas. Seperti apa lapisan itu?

Inti dari perubahan perilaku justru berada pada lapisan yang paling dalam dari perubahan perilaku, yakni lapisan identitas. Di mana kita tidak hanya sekadar melakukan sebuah rutinitas demi mendapatkan hasil yang kita mau, melainkan mengadopsi rutinintas tersebut sebagai bagian dari identitas diri kita. Anda mengharapkan penurunan berat badan dan rutin berolahraga demi mencapai hasil tersebut. Ketika Anda hanya mengandalkan hasil dan proses, Anda bisa saja mencapai tujuan tersebut; tetapi berapa banyak orang yang mengalami yoyo diet? Setelah berat badannya turun, ia berhenti berolahraga dan berat badannya naik lagi. James Clear menyarankan bahwa kita hendaknya tidak hanya sekadar mengubah hasil dan proses kita, tetapi mengubah identitas kita.

  • Tujuannya bukan menurunkan berat badan, tetapi tujuannya adalah menjadi orang yang sehat.
  • Tujuannya bukan membaca buku, tetapi tujuannya adalah menjadi seorang pembaca buku.
  • Tujuannya bukan mempelajari alat musik tertentu, tetapi tujuannya adalah menjadi seorang musisi.

Seringkali perilaku kita merupakan cerminan dari identitas kita. Dengan mengubah identitas kita, maka kita akan lebih mudah untuk memiliki habits baru yang lebih bermanfaat.

“Perubahan perilaku yang sesungguhnya adalah perubahan identitas.” (h.34)

2. Perilaku dan Habits terjadi dalam empat tahap

“Pola empat langkah ini merupakan tulang punggung dari setiap habit, dan otak Anda menjalankan langkah-langkah ini dalam urutan yang sama setiap saat.” (h.48)

Proses pembentukan sebuah habit terbagi menjadi empat langkah sederhana yang disebut pola empat-langkah: (1) cue atau petunjuk, (2) craving atau keinginan, (3) response atau tanggapan, dan (4) reward atau hadiah.

Cue atau petunjuk memicu otak kita untuk melakukan sebuah perilaku. Seorang perokok akan mengambil sebatang rokok dan menyalakannya ketika mulutnya mulai terasa “asam”; atau seseorang akan mengambil dan membuka sebungkus keripik kentang ketika ia sedang duduk santai di sofa rumahnya. Baik mulut terasa “asam” atau sedang duduk santai di sofa menjadi pemicu atau petunjuk dari masing-masing perilaku yang dicontohkan. Disebut petunjuk karena inilah yang membuat kita ingin melakukan sesuatu, yakni craving. Keinginan atau craving merupakan motivasi yang menjadi tenaga utama dari sebuah kebiasaan. Mengapa seseorang menyalakan rokoknya ketika mulutnya terasa asam? Ternyata ia ingin mulutnya terasa lebih nyaman dengan merokok. Mengapa seseorang membuka sebungkus keripik kentang ketika ia sedang duduk santai di sofanya? Ternyata ia ingin menikmati waktu memanjakan diri. Setiap craving berkaitan dengan perubahan tertentu.

Ketika cue dan craving terjadi, munculah response atau tanggapan. Anda sedang duduk santai di sofa dan munculah keinginan untuk membuka keripik kentang. Apakah Anda akan melakukannya? Tanggapan Anda bisa berupa memenuhi keinginan itu (“Ah, sedang santai, mari memanjakan diri sendiri!”), atau menahan godaan tersebut (“Sudah cukup, aku harus menjaga asupan garam hari ini.”).

Respons sangat bergantung pada reward atau hadiah yang diperoleh ketika perilaku tersebut dilakukan. Kita melakukan suatu perilaku karena menginginkan reward, yang dapat berupa: (1) mendapatkan kenikmatan, atau (2) menghilangkan rasa sakit. Ternyata membuka dan mengudap keripik kentang itu bisa membuat Anda merasa lebih rileks setelah bekerja seharian dan Anda pun membuka bungkusan itu. Hadiah yang Anda incar adalah rasa rileks tersebut.

Dengan menghilangkan salah satu dari keempat hal tersebut (cue, craving, response, dan reward), kita bisa memutuskan rantai kebiasaan kita. Misalnya, ketika keinginan untuk membuka sebungkus keripik kentang itu muncul (craving), kita bisa membatasi response kita dengan mengemil buah, maka kebiasaan mengemil keripik akan menghilang dan berganti dengan mengemil buah.

3. Empat hukum perubahan perilaku yang harus diingat

Berdasarkan keempat proses yang sudah disebutkan di atas, Clear merumuskannya menjadi empat hukum perubahan perilaku, yakni:

  • Buatlah kebiasaan baru tersebut menjadi jelas (cue),
  • Buatlah kebiasaan baru tersebut menjadi menarik (craving),
  • Buatlah kebiasaan baru tersebut mudah dilakukan (response), dan
  • Buatlah kebiasaan baru tersebut memuaskan (reward).

Anda bisa menerapkannya dengan menanyakan keempat hal ini kepada diri Anda sendiri:

  • Apa yang membuat kebiasaan ini nampak jelas?
  • Apa yang membuat kebiasaan ini menarik?
  • Apa yang membuat kebiasaan ini mudah dilakukan?
  • Apa yang membuat kebiasaan ini memuaskan?

Clear menyarankan untuk membuat kebiasaan tersebut nampak jelas (cue), lakukan implementation intention: “Ketika situasi X muncul, saya akan melakukan perilaku Y”. Contohnya:

  • Ketika saya berada di ruang tengah pada pukul 7 pagi, saya akan bermeditasi selama 7 menit.
  • Saya akan membaca buku selama 20 menit ketika saya sedang berada di kamar pada pukul 6 malam.
  • Saya akan berolahraga selama 1 jam di fitness center pada pukul 5 sore.

“Seseorang yang membuat rencana khusus tentang kapan dan di mana mereka akan melakukan kebiasaan baru cenderung akan melaksanakannya.” (h.71)

Kemudian, agar sebuah kebiasaan menjadi menarik, lakukan temptation bundling (craving). Pasangkanlah sesuatu yang Anda anggap menarik / menyenangkan dengan kebiasaan baru yang hendak Anda munculkan. Contohnya:

  • Jika Anda ingin rutin bersyukur dan Anda senang menonton berita olahraga: Setelah saya meminum kopi saya di pagi hari, saya akan mengucap syukur untuk satu hal positif yang terjadi kemarin, kemudian saya akan menonton berita olahraga setelah mengucap syukur.
  • Jika Anda ingin rajin berolahraga dan Anda senang membuka feed Instagram Anda: Ketika saya sedang santai di sore hari, saya akan melakukan push-up sebanyak 15 kali, setelah itu baru saya akan membuka Instagram saya.
  • Jika Anda ingin rajin membaca buku dan Anda senang menonton video Youtube: Ketika saya sedang berada di kamar pada malam hari, saya akan membaca buku sebanyak 15 halaman, baru setelah itu saya akan menonton video Youtube.

“Perilaku yang lebih mungkin dilakukan akan memperkuat perilaku yang tidak terlalu mungkin dilakukan.” (h.110)

Gunakan usaha yang sesedikit mungkin agar perilaku tersebut mudah dilakukan (response). Tatalah lingkungan Anda sedemikian rupa agar Anda bisa melakukan perilaku tersebut semudah mungkin. Misalnya:

  • Jika Anda ingin lebih sering minum air, selalu letakan sebotol penuh air minum di dekat jangkauan Anda.
  • Jika Anda ingin rutin berolahraga, persiapkan semuanya: pakaian olahraga, sepatu, tas untuk gym, botol air minum, dan keanggotaan di fitness center. Ini akan membuat Anda tidak punya alasan untuk tidak berolahraga.
  • Jika Anda ingin lebih sering menyantap buah, potonglah buah dan kemas ke dalam wadah-wadah kecil yang bisa Anda bawa ke mana saja. Anda akan mudah menyantapnya kemudian.

“Setiap kali Anda mengatur ruang untuk tujuan yang dimaksudkan, Anda memprioritaskannya untuk mempermudah tindakan selanjutnya.” (h.156)

Terakhir, buatlah perilaku tersebut memuaskan (reward).Clear menyarankan agar kita membuat pencatatan terhadap kemajuan dari habit kita. Hal ini agar kita menyadari bahwa kita mengalami kemajuan, dan menyadari kemajuan itu membuat kita ketagihan untuk melakukannya lagi.

  • Setelah saya bermeditasi hari ini, saya akan menandai kalender pada tanggal hari ini.
  • Ketika saya berhasil melakukan 60 menit olahraga di gym, saya akan mencatatnya di jurnal olahraga saya.
  • Saya akan menulis rangkuman singkat dari bacaan saya pada hari ini.

“Salah satu perasaan yang paling memuaskan adalah perasaan setelah melakukan kemajuan” (h.204)

4. Aturan Goldilock: membuat kita terus termotivasi

“Otak manusia menyukai tantangan, tetapi hanya jika tantangan tersebut berada di sekitar zona optimal kesulitan.” (h.231)

Mari kita membayangkan sebuah skenario sejenak. Bayangkan Anda senang bermain tenis meja dan Anda bertanding dengan anak berusia 5 tahun, apa yang terjadi? Anda akan merasa bosan karena pertandingan tersebut tidak menantang. Namun bayangkan jika Anda bermain tenis meja melawan Anton Suseno (atlet olimpiade cabang tenis meja), apa yang kemudian terjadi? Anda mungkin akan mudah putus asa karena lawan Anda terlalu sulit.

Namun kini Anda mendapatkan lawan baru yang lebih sepadan. Seiring berjalannya permainan, Anda berhasil memenangkan beberapa poin, kemudian lawan Anda juga berhasil mendapatkan beberapa poin. Anda memiliki kemungkinan untuk memenangkan pertandingan ini hanya jika Anda benar-benar serius. Apa yang terjadi? Anda akan memusatkan atensi dan seluruh upaya Anda untuk memenangkan pertandingan tersebut.

Inilah contoh dari aturan Goldilock: motivasi puncak manusia muncul ketika kita menemukan tugas yang tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah, tepat di ujung kemampuan kita.

“Ketika Anda memulai sebuah kebiasaan baru: mulailah perilaku tersebut semudah mungkin sehingga Anda tetap bisa melakukannya meskipun kondisinya tidak sempurna.” (h.232)

“Ketika sebuah kebiasaan sudah terbangun, penting untuk terus maju (meningkatkan tantangan) dengan cara-cara kecil.” (h.232).

Penutup

Empat poin di atas menjadi pembelajaran penting yang saya peroleh dari buku Atomic Habits. Sesungguhnya, isi buku ini masih jauh lebih padat daripada apa yang sudah saya jabarkan di sini. Terlalu banyak insight baru yang saya peroleh sehingga tidak dapat dituliskan secara menyeluruh dalam sebuah blog. Tentu saja, saya sangat menyarankan Anda untuk membeli satu buku tersebut dan membacanya sampai habis.

Oh iya, jika Anda sedang ingin membentuk habit baru dan menghilangkan habit lama Anda, saya memiliki materi kursus online yang bisa Anda ikuti secara fleksibel. Kursus ini saya tujukan bagi orang-orang yang ingin lebih memegang kendali atas hidupnya dan menjadi versi terbaik dari dirinya. Anda bisa mencari tahu lebih lanjut di sini.

Cara Membentuk Kebiasaan Positif Berdasarkan Fogg Behavior Model

Cara Membentuk Kebiasaan Positif Berdasarkan Fogg Behavior Model

Jika ada sebuah model yang mudah dan praktis untuk menjelaskan bagaimana sebuah perilaku dan kebiasaan terbentuk, maka model perilaku Fogg (Fogg behavior model) merupakan sebuah model yang akan saya sebutkan. Model ini dapat dengan mudah menjelaskan bagaimana sebuah perilaku bisa muncul secara berulang sehingga menjadi kebiasaan. Anda bisa membaca penjelasan mengenai Fogg behavior model dengan lebih detil dalam tulisan ini.

Model perilaku Fogg menjelaskan bahwa sebuah perilaku maupun kebiasaan terdiri dari tiga elemen berikut: (1) kemampuan, (2) motivasi, dan (3) pemicu.

Menggunakan model tersebut, jika kita ingin membentuk kebiasaan positif, maka rumusnya adalah:

  1. Temukan cara untuk membuat kebiasaan tersebut lebih mudah dilakukan (kemampuan),
  2. Temukan cara untuk meningkatkan motivasi kita melakukan kebiasaan tersebut (motivasi), dan
  3. Temukan pemicu yang bisa mendorong kita untuk memunculkan kebiasaan tersebut (pemicu).

Tiga langkah tersebut perlu dirumuskan lebih praktis lagi agar Anda bisa mengaplikasikannya di kehidupan Anda.

1. Untuk membuat kebiasaan tersebut mudah, mulai dari langkah terkecil

Ada pepatah Sun Tzu yang cukup terkenal, berbunyi, “Perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah”. Pepatah ini masih relevan dan praktis hingga saat ini. Anda tidak bisa melakukan perubahan besar tanpa melakukan langkah pertama. Dan untuk melakukan langkah pertama, Anda harus memulainya dengan mudah.

Berapa banyak orang yang memiliki aspirasi yang begitu ideal? Banyak orang mengatakan ingin menjalani pola hidup sehat, rutin berolahraga, rajin membaca buku, dan sebagainya. Namun berapa banyak orang yang gagal merealisasikan aspirasi tersebut?  Temuan bahwa 80% orang gagal merealisasikan resolusi tahun baru mereka menggambarkan betapa banyaknya orang yang gagal membentuk kebiasaan positif yang mereka harapkan.

Menentukan tujuan yang besar itu baik, namun jangan langsung memulainya dengan besar. Jika Anda ingin membentuk kebiasaan rutin membaca buku setiap hari, maka jangan mulai dengan target membaca 30 halaman per hari atau membaca 1 buku sampai habis per minggu. Anda akan mengalami kesulitan besar mempertahankan kebiasaan tersebut dan membuat Anda merasa frustrasi, dan itu akan mendemotivasi Anda. Memulai sebuah kebiasaan dengan target yang tinggi dan besar justru berkemungkinan besar membuat Anda gagal. Alih-alih, mulailah dengan langkah yang terkecil. Apa langkah terkecil yang bisa Anda ambil untuk memulai sebuah kebiasaan positif yang baru?

Jika Anda ingin rutin membaca buku, mulailah dengan kebiasaan membaca 3 hingga 5 halaman per hari. Jika Anda ingin rutin berolahraga, mulailah dengan jogging selama 10 menit di taman kompleks rumah Anda setiap pagi. Hal-hal tersebut mudah untuk dilakukan. Karena mudah dilakukan, besar kemungkinan Anda akan berhasil menyelesaikannya dan hal ini akan meningkatkan semangat Anda. Rasa keberhasilan itu memotivasi dan membuat kita ingin mengulanginya lagi. Lakukanlah kebiasaan baru Anda dari langkah yang terkecil. Seiring dengan keberhasilan Anda, naikkan tingkat kesulitan kebiasaan tersebut hingga mencapai tingkat yang Anda harapkan.

Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Mulai dengan membaca buku sebanyak 5 halaman per hari, setelah berhasil melakukannya berkali-kali, Anda bisa meningkatkannya menjadi 10 halaman per hari, kemudian 15 halaman per hari, sampai Anda memiliki kebiasaan baru membaca buku sesuai dengan standar yang Anda inginkan.
  • Mulai dengan jogging selama 15 menit setiap pagi, setelah berhasil melakukannya berkali-kali Anda bisa meningkatkannya menjadi 20 menit, 25 menit, 30 menit; sampai Anda memiliki kebiasaan baru jogging setiap pagi sesuai durasi yang Anda inginkan.

Anda bisa memulainya dengan bertanya kepada diri sendiri: apa langkah terkecil yang bisa saya lakukan untuk memulainya?

2. Untuk meningkatkan motivasi kita, lakukan selebrasi setiap kali berhasil

Edward Lee Thorndike, salah satu tokoh psikologi klasik, menyatakan bahwa perilaku manusia dapat dijelaskan melalui hukum efek (law of effect), yang kira-kira berbunyi sebagai berikut: perilaku yang disertai dengan konsekuensi menyenangkan akan cenderung diulang kembali, sedangkan perilaku yang disertai dengan konsekuensi tidak menyenangkan akan cenderung dihentikan atau tidak diulang kembali. Hal ini kemudian menginspirasi Burrhus Frederic Skinner, salah satu tokoh besar dalam psikologi juga, mencetuskan konsep reward dan punishment untuk mengondisikan perilaku manusia.

Kita akan termotivasi untuk mengulangi sebuah perilaku ketika mengetahui ada konsekuensi menyenangkan setelahnya. Ini adalah mekanisme dasar perilaku manusia. Mekanisme ini masih relevan dan dapat diterapkan untuk membantu kita membentuk sebuah kebiasaan.

Setiap Anda berhasil melakukan sebuah perilaku (yang akan dijadikan kebiasaan), maka lakukanlah selebrasi bagi diri Anda. Apa contohnya? Misalnya ketika Anda berhasil membaca buku hingga 5 halaman, pujilah diri Anda di depan cermin. Tatap baik-baik wajah Anda dan katakan bahwa Anda bangga karena sudah melakukan langkah pertama untuk mengembangkan diri. Itu hanya salah satu contoh, tentu Anda bisa melakukan selebrasi lain yang dirasa lebih tepat untuk Anda. Contoh lain, ketika Anda berhasil jogging selama 15 menit hari ini, ambil jeda sejenak dan nikmati betapa segarnya diri Anda seusai berolahraga. Nikmati perasaan puas dari keringat yang mengucur dan detak jantung yang masih berdetak cepat. Ini pun bisa menjadi salah satu bentuk selebrasi.

Berpuluh-puluh tahun yang lalu, orang-orang di Amerika Serikat masih belum terbiasa menggosok giginya secara rutin seperti sekarang ini. Oleh sebab itu, tidak heran masalah gigi menjadi salah satu masalah besar yang dialami oleh warga Amerika Serikat. Selain menimbulkan masalah kesehatan gigi, hal ini juga menimbulkan masalah bagi sebuah perusahaan pasta gigi bermerk Pepsodent. Penjualannya sangat rendah, dan Pepsodent butuh terobosan baru untuk menyelamatkan penjualan mereka. Akhirnya mereka menggunakan jasa Claude Hopkins, seorang pakar pemasaran Amerika yang pernah berhasil mendongkrak penjualan Quaker Oats. Bagaimana hasilnya? Saya rasa tidak perlu dijelaskan lagi, Pepsodent kini menjadi salah satu merk pasta gigi terbesar di dunia. Namun, apa yang Hopkins dan Pepsodent lakukan untuk melakukan hal ini?

Pepsodent, atas masukan dari Hopkins, mengampanyekan iklan yang menyadarkan pembacanya bahwa terdapat lapisan membran di permukaan gigi kita yang dapat kita rasakan dengan menyapukan lidah ke permukaan gigi. Lapisan ini, klaim Hopkins, membuat gigi kita kurang bersih sehingga harus disikat dengan pasta gigi Pepsodent (kenyataannya, lapisan ini sebenarnya wajar jika ada di permukaan gigi kita). Iklan ini berhasil mengangkat kesadaran warga akan kebersihan gigi, namun masih belum maksimal. Orang-orang masih belum merasa perlu untuk menyikat giginya 2 kali setiap hari. Selanjutnya, Pepsodent memasukkan rasa mint ke dalam ramuan pasta giginya. Pada saat itu belum ditemukan pasta gigi rasa mint, dan Pepsodent yang pertama kali melakukannya. Campuran mint ini kemudian memberikan sensasi segar di dalam mulut yang membuat orang menyukainya. Setiap orang selesai menyikat giginya dengan Pepsodent, mereka akan merasakan sensasi segar di dalam mulut. Sensasi segar ini ternyata menyenangkan dan mendorong masyarakat untuk menyikat giginya dua hari sekali. Long story short, Pepsodent berhasil memunculkan perilaku baru pada masyarakat dunia untuk menyikat gigi dua kali sehari.

Sensasi segar dalam mulut ini merupakan konsekuensi menyenangkan yang muncul setelah menyikat gigi. Inilah yang memunculkan kebiasaan baru pada masyarakat Amerika Serikat. Orang-orang akan terdorong untuk melakukan kembali sebuah perilaku apabila perilaku tersebut disertai dengan konsekuensi menyenangkan, dan bila perilaku tersebut muncul secara berulang-ulang, maka perilaku tersebut sudah menjadi kebiasaan. Demikian pula dengan selebrasi yang kita lakukan setiap kali berhasil melakukan sebuah perilaku. Menyadari ada sensasi menyenangkan usai melakukan sebuah perilaku akan mendorong kita untuk mengulanginya kembali, dan ketika sudah muncul berulang-ulang, perilaku tersebut menjadi kebiasaan baru bagi kita.

Jadi, selebrasi apa yang akan Anda gunakan untuk membantu memotivasi kebiasaan baru Anda? Kata kuncinya adalah satu: selebrasi tersebut harus menyenangkan secara emosional.

3. Untuk memunculkan pemicu kebiasaan baru, kita harus mengaitkannya dengan kebiasaan lama yang sudah ada

Sebuah kebiasaan bekerja dalam proses yang disebut sebagai “lingkaran kebiasaan” (habit loop). Lingkaran kebiasaan ini terdiri dari tiga elemen: pemicu, perilaku, konsekuensi. Sebuah perilaku membutuhkan pemicu untuk muncul, Anda tidak akan berperilaku tertentu tanpa penyebab; dan sebuah perilaku dapat muncul berulang-ulang karena diperkuat oleh konsekuensi yang menyenangkan. Lingkaran kebiasaan dapat digambarkan dengan grafik berikut:

Merokok adalah sebuah kebiasaan yang kuat dan sulit untuk dihilangkan. Salah seorang perokok berat pernah mengatakan kepada saya bahwa sekalipun ia sadar merokok itu berbahaya bagi kesehatan, namun ia masih sulit menghentikan kebiasaan itu. Waktu itu saya menanyakan pada saat apa ia paling sering merokok, dan ia menjawab saat setelah makan merupakan saat yang memiliki dorongan paling besar untuk merokok. Seusai makan, ada sensasi yang belum lengkap di dalam mulutnya, yang hanya bisa terpenuhi dengan menghisap habis sebatang rokok. Bila digambarkan dalam lingkaran kebiasaan, maka mekanismenya adalah sebagai berikut:

Jelas sekali bahwa perilaku merokok itu muncul setelah sebuah perilaku yang menjadi pemicunya, yakni makan. Setiap kali selesai makan, ia akan membakar sebatang rokok. Menariknya, pola kebiasan ini tidak hanya muncul pada satu orang saja; beberapa perokok lainnya juga mengakui hal yang sama. Setiap selesai makan, maka mereka akan menghisap rokok.

Jika pola perilaku ini bisa memunculkan kebiasaan negatif, mengapa tidak kita manfaatkan saja untuk memunculkan kebiasaan positif? Dalam konsep atomic habits, prinsip ini diterapkan dalam metode “habit stacking” atau penumpukan kebiasaan. Maksudnya adalah, kita bisa menumpukkan atau menempelkan sebuah kebiasaan baru yang ingin kita bentuk kepada sebuah kebiasaan lama yang sudah ada. Rumusnya adalah sebagai berikut:

Setelah saya [habit lama], maka saya akan [habit baru]

Contohnya bisa sebagai berikut:

  • Setelah saya selesai mandi sore, maka saya akan mengambil buku untuk dibaca.
  • Setelah saya selesai menyikat gigi di pagi hari, maka saya akan push up sebanyak 5 kali.
  • Setelah saya selesai mencuci muka di pagi hari, maka saya akan segera memakai sepatu jogging untuk berlari selama 15 menit.
  • Setelah saya selesai makan siang, maka saya akan membaca satu artikel pengembangan diri.

Carilah sebuah pemicu untuk kebiasaan baru Anda. Pemicu tersebut adalah kebiasaan lama yang sudah rutin muncul dalam keseharian Anda.

Menggabungkan ketiganya menjadi satu

Setelah membaca tulisan ini, Anda sudah memperoleh beberapa wawasan baru, di antaranya:

  • Sebuah perilaku muncul dalam tiga komponen: kemampuan, motivasi, dan pemicu.
  • Perilaku yang muncul berulang-ulang akan menjadi kebiasaan.
  • Agar kebiasaan baru bisa muncul, mulailah dari perilaku yang mudah terlebih dahulu.
  • Agar perilaku tersebut bisa muncul berulang-ulang, munculkan konsekuensi yang menyenangkan berupa selebrasi.
  • Pasangkan kebiasaan baru Anda dengan kebiasaan lama yang sudah ada.

Sehingga jika Anda ingin memunculkan kebiasaan membaca buku, maka Anda bisa menggunakan strategi berikut:

  1. Tentukan target yang lebih mudah dulu, yakni membaca 5 halaman buku setiap hari.
  2. Lakukan selebrasi yang sederhana dan menyenangkan usai berhasil membaca 5 halaman buku; misalnya menatap wajah dari pantulan cermin dan berterima kasih sudah melakukan hal baik.
  3. Pasangkan kebiasaan membaca buku ini dengan sebuah kebiasaan yang sudah sering muncul; misalnya membaca 5 halaman buku setiap selesai mandi sore.
  4. Evaluasi keberhasilan dari strategi ini. Anda bisa meningkatkan target, menggunakan selebrasi lain, atau memasangkannya dengan kebiasaan lain yang lebih cocok sesuai dengan performa Anda.

Tentu saja, metode ini bukanlah sihir yang bisa langsung berhasil dalam sehari. Butuh proses di dalamnya. Dan proses tersebut dimulai dari sebuah pertanyaan: kapan Anda akan mulai menerapkan metode ini?

Referensi:
1. Clear, J. (2018). Atomic habits: An easy and proven way to build good habits. Random House.
2. Duhigg, C. (2012). The power of habit. Random House.
3. Feist, J., Feist, G., & Roberts, T. (2018). Theories of personality (9th ed.). McGraw-Hill.
4. Fogg, B.J. (2019). Tiny habits: The small changes that change everything. Virgin Books.
5. Tabaka, M. (n.d.). Most people fail to achieve their new year’s resolution. Diambil dari https://www.inc.com/marla-tabaka/why-set-yourself-up-for-failure-ditch-new-years-resolution-do-this-instead.html pada 2020, 28 Oktober.

Apakah Hadiah dan Hukuman Efektif? (Pengondisian Operan)

Dalam salah satu teori klasik psikologi, dikenal sebuah hukum yang disebut sebagai hukum efek (the law of effect). Bunyinya adalah sebagai berikut:

“Sebuah perilaku yang diikuti oleh konsekuensi menyenangkan akan cenderung diulang, sedangkan perilaku yang diikuti oleh konsekuensi tidak menyenangkan lebih tidak cenderung diulang”.

Hukum ini kemudian menginspirasi Burrhus Frederic Skinner untuk melakukan sebuah eksperimen dengan binatang dan sebuah kotak rancangannya sendiri yang disebut “Skinner box”. Dalam kotak tersebut, ia memberikan sejumlah hukuman dan hadiah terhadap perilaku-perilaku yang dilakukan oleh hewan yang diletakkan di dalam kotak. Proses eksperimen ini membuat Skinner memunculkan sebuah konsep yang ia sebut sebagai pengondisian operan (operant conditioning). Dalam konsep itu, Skinner menyatakan bahwa ada dua respons atau dua operan yang dapat membentuk perilaku sebuah organisme:

  • Reinforcement (penguat): yakni respons yang meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut diulangi lagi; dalam kehidupan sehari-hari kita sebut sebagai hadiah atau penghargaan (reward). Sebuah penguat bisa bersifat positif atau negatif.
  • Punishment (hukuman): yakni respons yang menurunkan kemungkinan perilaku tersebut diulangi lagi. Biasanya sesuatu yang tidak disukai sehingga orang-orang akan menghindarinya. Sebuah hukuman bisa bersifat positif atau negatif juga.
 Reinforcement (Penguat) Sesuatu yang menyenangkan agar perilaku cenderung diulangPunishment (Hukuman) Sesuatu yang tidak menyenangkan agar perilaku cenderung tidak diulang
Positif (memberi sesuatu)Positive Reinforcement Memberikan sesuatu yang menyenangkan   Contoh: memberikan bonus kepada karyawan yang berhasil mencapai target, agar ia termotivasi untuk melakukannya lagi.Positive Punishment Memberikan sesuatu yang tidak menyenangkan   Contoh: memberikan surat peringatan kepada karyawan yang terlalu sering terlambat, agar ia tidak mengulanginya lagi.
Negatif (menghilangkan sesuatu)Negative Reinforcement Menghilangkan sesuatu, sehingga terasa menyenangkan   Contoh: menghilangkan kewajiban anak untuk bangun pagi di akhir pekan selama sebulan ketika ia berhasil menunjukkan prestasi belajar, agar ia termotivasi untuk mengulanginya lagi.Negative Punishment Menghilangkan sesuatu, sehingga terasa tidak menyenangkan   Contoh:  mengurangi bonus pada karyawan yang tidak disiplin, agar ia tidak mengulanginya lagi.

Bagaimana menerapkan konsep ini dalam membentuk kebiasaan?

Sebuah perilaku akan cenderung diulang ketika disertai dengan konsekuensi menyenangkan (positive maupun negative reinforcement). Dalam membentuk sebuah kebiasaan baru, selalu ingat prinsip pengulangan: perilaku yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi otomatis, dengan demikian menjadi sebuah kebiasaan.

Hari ini kita bermeditasi di pagi hari, esok hari kita bermeditasi di pagi hari, lusa kita bermeditasi di pagi hari. Awalnya masih sekadar berupa perilaku, namun karena kita terus melakukannya hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, perilaku ini lama-lama akan menjadi sebuah kebiasaan. Secara otomatis, ketika pagi hari tiba, kita akan mulai bermeditasi. Proses ini juga bisa ditemukan dalam prinsip pengondisian klasik (classical conditioning).

Bagaimana caranya agar kita bisa mengulangi perilaku tersebut hingga menjadi sebuah kebiasaan? Jawabannya adalah konsekuensi menyenangkan atau reinforcement. Ketika Anda ingin membentuk sebuah kebiasaan baru, Anda perlu mencari konsekuensi menyenangkan yang bisa menjadi reinforcement atau reward bagi upaya Anda, agar Anda lebih termotivasi lagi untuk mengulangi perilaku tersebut.

Dalam model perilaku Fogg (Fogg behavior model), sebuah perilaku terdiri dari tiga komponen, yakni (1) pemicu, (2) kemampuan, dan (3) motivasi. Semakin kita termotivasi untuk melakukan sebuah perilaku, maka semakin besar kemungkinan kita akan melakukannya, sekalipun perilaku tersebut terasa sulit untuk dilakukan. Bagi saya, tidur pada pukul 10 malam adalah hal yang sulit untuk dilakukan (apalagi saya sudah terbiasa tidur setelah jam 11 malam). Namun karena saya memiliki motivasi yang jelas pada saat itu, karena saya harus sudah tiba di bandara pukul 5 pagi keeseokan harinya, maka saya bisa tidur pada pukul 10 malam. Padahal sebelumnya hal itu tidak pernah saya lakukan. Motivasi yang tinggi dapat mengompensasi tingkat kesulitan yang tinggi pula.

Jika Anda ingin memiliki kebiasaan tidur lebih awal, maka munculkanlah motivasi yang tinggi agar Anda lebih berkemungkinan besar untuk berhasil. Motivasi bisa muncul dari berbagai hal, salah satunya dari konsekuensi yang menyenangkan. Berilah konsekuensi menyenangkan dari perilaku tidur pukul 10 malam. Misalnya, izinkanlah Anda untuk memasak sarapan yang Anda sukai setiap kali berhasil tidur lebih awal dan bangun lebih pagi (dan hal ini mungkin untuk dilakukan karena jika bangun lebih awal, Anda bisa melakukan lebih banyak aktivitas).

Dalam hukum perubahan perilaku (laws of behavior change) yang dirumuskan oleh James Clear pun, terdapat bunyi: “untuk membentuk kebiasaan, buatlah perilaku itu menjadi memuaskan”. Rasa puas juga merupakan salah satu konsekuensi yang menyenangkan. Ketika Anda berhasil tidur lebih awal dan bangun lebih pagi, rasakan kesegerannya. Rasakan bagaimana udara di pagi hari, saat matahari menjelang terbit, terasa lebih segar dibandingkan udara pada waktu-waktu lainnya. Rasakan bagaimana heningnya suasana kompleks yang jarang Anda temui. Ucapkan syukur bisa menikmati hal-hal ini, yang hanya terjadi ketika Anda bisa bangun pagi. Besar kemungkinan Anda akan mengulangi perilaku ini kembali!

Sehingga, munculkanlah konsekuensi menyenangkan (reinforcement) dalam perilaku Anda agar cenderung Anda ulangi lagi.

Tapi ini terdengar remeh, benarkah bisa berhasil?

Kadangkala orang terlalu menyukai konsep yang rumit dan jadi meremehkan konsep yang sederhana. Konsep ini memang terdengar sederhana dan remeh sekali, tetapi percayalah, it works! Lagipula, jika konsep ini tidak efektif, tidak mungkin pengondisian operan masih dimasukkan dalam kurikulum kuliah psikologi, bahkan konsep ini sudah harus dipelajar di semester satu perkuliahan. Teori ini memang seringkali diremehkan karena terkesan sederhana; orang-orang hanya jarang berusaha menerapkannya saja.

Dalam dunia bisnis, konsep ini disebut sebagai “carrot & stick” (wortel dan tongkat). Prinsipnya sama saja, penguatan dan hukuman. Sebutannya saja yang berbeda.

Bagaimana bila Anda gagal menerapkannya? Kegagalan terjadi bisa karena berbagai hal. Namun umumnya terjadi karena reinforcement yang diberikan kurang bermakna. Misalnya Anda ingin bangun lebih pagi dengan tidur lebih awal, tetapi reinforcement yang Anda berikan adalah mengizinkan diri sendiri untuk minum kopi dari biji yang Anda giling sendiri. Kemudian Anda menyadari reinforcement ini tidak berhasil membuat Anda ingin tidur lebih awal agar bisa bangun lebih pagi. Apa yang sebenarnya terjadi? Bisa saja, konsekuensi atau reinforcement tersebut kurang bermakna. Meminum kopi dari hasil gilingan sendiri memang menyenangkan, tetapi Anda juga bisa melakukannya ketika Anda bangun siang. Jika demikian, apa faedahnya tidur lebih awal agar bisa bangun lebih pagi? Ini perlu Anda pikirkan. Carilah konsekuensi yang bermakna, yang memang Anda sukai, Anda hargai tinggi, dan hanya bisa muncul jika Anda melakukan perilaku tersebut.

Hal yang juga berlaku pada punishment. Berapa banyak orang tetap membuang sampah sembarangan sekalipun telah dihimbau dan diberi teguran? Hal ini karena konsekuensinya kurang bermakna. Ditegur memang tidak menyenangkan, tetapi itu kurang kuat untuk menghentikan perilaku membuang sampah sembarangan. Perlu sesuatu yang lebih kuat, misalnya: didenda uang? Berapa dulu nominalnya? Jika hanya didenda Rp5000 setiap perilaku itu terjadi, besar kemungkinan hukuman itu kurang bermakna sehingga justru akan diulangi lagi. Berikanlah denda Rp500.000, maka orang-orang akan menjadi berpikir ulang sebelum membuang sampah sembarangan.

Pengondisian operan untuk membentuk kebiasaan: rangkuman

Jadi, anda bisa menerapkan pengondisian operan untuk membentuk kebiasaan baru dengan langkah ini:

  • Tentukan konsekuensi yang menyenangkan,
  • Pastikan konsekuensi tersebut Anda hargai tinggi,
  • Buat konsekuensi itu bermakna, dan
  • Pastikan Anda menikmati konsekuensi tersebut ketika berhasil mendapatkannya.

Sedangkan untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang sudah muncul, Anda bisa menerapkan pengondisian operan dengan cara ini:

  • Tentukan konsekuensi yang tidak menyenangkan (hukuman),
  • Pastikan konsekuensi tersebut memberi efek jera pada Anda,
  • Buat konsekuensi itu bermakna / berdampak langsung terhadap diri Anda.

Berhasil menerapkan ini dengan baik saja sebenarnya sudah akan memberikan dampak yang signifikan bagi hidup Anda. Tapi jika Anda ingin lebih powerful lagi, maka Anda bisa menyimak tips dan tulisan lainnya tentang kebiasaan di sini.