Pelajaran tentang Altruisme dan Welas Asih dari Kisah Relief Borobudur

Candi Borobudur bukan sekadar bangunan peninggalan zaman kerajaan Nusantara belaka. Di balik itu, Candi Borobudur adalah bukti bahwa peradaban, kebudayaan, dan spiritualitas nusantara sudah berkembang sejak ribuan tahun lampau. Relief yang terpahat di dinding-dinding batu Candi Borobudur bukanlah sekadar estetika belaka, melainkan visualisasi dari berbagai kisah moral yang terkandung dalam ajaran spiritualitas yang disebut “Dharma”.

Ada puluhan, atau mungkin ratusan, kisah-kisah bernapaskan filsafat Buddha yang terkandung di dalam relief-relief Candi Borobudur. Dan kali ini saya tertarik untuk menceritakan salah satunya, dari sebuah relief yang berjudul “Avisahya Jataka” atau “Kisah tentang Yang Tak Terkalahkan”. Kisah ini tergambar dalam 4 panel relief di tingkat pertama candi, yang disarikan dari kitab klasik karangan seorang filsuf Buddhis yang bernama “Aryashura” (nama kitabnya sendiri adalah Jatakamala).

Kisah ini menceritakan seorang bangsawan yang kaya raya dan dermawan. Ia gemar menggunakan harta bendanya untuk membantu orang-orang yang mengalami kesulitan. Kemurahan hatinya tak terkalahkan, sehingga ia dijuluki sebagai “Avisahya” atau “Yang Tak Terkalahkan”. Demikianlah ia dikenal.

Kabar mengenai kemurahan hatinya ternyata tidak hanya menyebar di alam manusia, tetapi juga menyebar hingga ke alam para dewa. Adalah Dewa Sakra, raja dari para dewa, yang kemudian merasa penasaran dengan Avisahya. Sakra ingin mengetahui sampai di mana batas kemurahan hati dari Avisahya. Kemudian, dengan kesaktiannya, Sakra menghilangkan beberapa harta milik Avisahya.

Mengetahui sebagian harta bendanya lenyap secara mendadak, Avisahya tidak merasa cemas sama sekali. Ia justru berpikir bahwa ini adalah bukti bahwa harta benda yang ia miliki tidaklah kekal, dan dengan demikian tidak sepantasnya ia melekati harta kekayaan miliknya. Mengetahui hal ini, ia semakin bersemangat untuk berderma, karena ia tahu bahwa kekayaan yang ia miliki sudah sepantasnya digunakan untuk meringankan kesulitan orang lain, bukan untuk ia lekati.

Hingga tibalah pada suatu hari, seluruh harta Avisahya benar-benar lenyap. Hanya ada dua benda yang tersisa, yakni seutas tali dan sebuah sabit. Lagi-lagi, Avisahya tidak gentar sedikitpun untuk berhenti menjadi seorang dermawan. Pengalaman ini justru membuat ia terpikir betapa menderitanya jatuh miskin dan tidak memiliki harta benda sedikitpun. Menyadari hal ini, ia justru menjadi semakin bersemangat untuk membantu orang lain. Dengan tali dan sabit, dua kepemilikannya yang masih tersisa, ia mulai keluar dari rumahnya, menyabit rumput dan menjualnya. Pendapatan yang ia peroleh kemudian digunakan lagi untuk membantu orang lain.

Semakin penasaran, Dewa Sakra kemudian turun ke bumi, menyapa Avisahya yang sedang bekerja menyabit rumput. Sakra berusaha untuk menguji keteguhan hati Avisahya, mengatakan bahwa ia lebih baik memikirkan dirinya sendiri yang sedang kesusahan daripada memikirkan orang lain. Tetapi Avisahya justru menjawab:

“Jika aku sekali lagi memperoleh kekayaan besar, itu pasti akan untuk menyenangkan para orang miskin. Untuk saat ini, bagaimanapun, bahkan dalam kondisiku yang rendah, aku akan memberikan sedekah sebaik yang aku bisa. Semoga aku tidak pernah lalai dalam menepati sumpah amal ini!

Singkat cerita, Avisahya tak sedikitpun terpengaruh oleh bujukan Sakra.

Merasa amat takjub dengan kedermawanan hati Avisahya, Dewa Sakra akhirnya menyampaikan bahwa ialah yang sebenarnya melenyapkan harta benda milik Avisahya. Sakra kemudian sungguh kagum dengan keteguhan dan kemurahan hati Avisahya, dan dengan demikian Sakra mengembalikan harta benda Avisahya yang selama ini ia sembunyikan. Kembalilah Avisahya menjadi seorang yang kaya raya. Avisahya menjadi gembira, bukan karena ia kembali menjadi kaya raya, melainkan karena kini ia bisa membantu banyak orang lagi seperti biasa.

Adapun Avisahya berucap:

“Siapapun yang tergerak oleh welas asih, siapa pun yang ingin melindungi makhluk yang rentan oleh usia tua dan kematian, akan merelakan dirinya sendiri sebagai derma.”

Antara Altruisme, Welas Asih, dan Kebahagiaan

Pada awal tahun 2000an, para ilmuwan neurosains menemukan seseorang yang kemudian dijuluki oleh media sebagai “orang yang paling bahagia di dunia”. Adapun sebutan ini berdasarkan pada hasil pemindaian MRI yang membuat para ilmuwan merasa takjub: ada aktivitas yang tinggi pada bagian otaknya yang berkaitan dengan tingkat kebahagiaan seseorang (prefrontal cortex bagian kiri). Dan orang itu adalah Matthieu Ricard, seorang akademisi asal Perancis yang kemudian beralih identitas menjadi seorang bhiksu Buddhis.

Lalu, apa rahasia Matthieu Ricard yang kemudian membuat ia dijuluki sebagai “the happiest man in the world”? Jawaban Ricard ternyata bukanlah harta maupun tahta, apalagi Renata; melainkan tiga konsep sederhana: berkesadaran penuh (mindfulness), altruisme, dan welas asih (compassion).

Berbagai riset memang sudah menunjukkan bahwa baik berkesadaran penuh, altruisme, maupun welas asih sangat berperan terhadap kebahagiaan seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan ternyata bukan kita dapatkan ketika kita hanya memikirkan diri sendiri, melainkan ketika kita mampu memikirkan sesuatu yang melebihi kita: kebahagiaan semua makhluk. Dan ini tercermin dari kisah Avisahya yang terpahat dalam relief Candi Borobudur.

Altruisme

Altruisme merupakan sebuah tindakan yang lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri (Hogg & Vaughan, 2018). Seseorang dikatakan altruis jika ia berperilaku demi keuntungan bersama tanpa mengharapkan keuntungan pribadi. Ini adalah sebuah sikap yang tergolong mulia, namun para ahli psikologi masih berdebat bahwa apakah ada manusia yang benar-benar altruis (Batson, 2011). Meski demikian, kita mungkin pernah menemui maupun mendengar kisah tentang seseorang yang pernah hidup di dunia ini dan menunjukkan tindakan-tindakan yang dapat kita golongkan sebagai altruis.

Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa altruisme dapat membuat seseorang merasa lebih bahagia (Musick & Wilson, 2003; Koenig et al., 2007). Hal ini karena ketika seseorang menyadari bahwa ia bisa melakukan sesuatu demi kepentingan orang banyak tanpa mengharapkan apapun, ia mulai merasakan dirinya bermakna. Dan ini sesuai dengan nasihat yang diberikan oleh Matthieu Ricard bahwa altruisme merupakan salah satu praktik yang ia kembangkan. Dalam kisah relief Borobudur di atas, Avisahya menyontohkan altruisme dengan berderma. Avisahya membagikan hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan, dengan sebuah tujuan yang sederhana: untuk meringankan penderitaan orang lain. Ini erat kaitannya dengan welas asih.

Welas Asih

Welas asih atau compassion dapat didefinisikan sebagai sebuah perasaan yang muncul ketika menyaksikan penderitaan orang lain dan memunculkan motivasi untuk membantu meringankannya (Goetz et al., 2010). Dalam psikologi, welas asih akan menggerakan altruisme seseorang, karena welas asihlah yang membuat seseorang terdorong untuk menolong demi meringankan penderitaan orang lain. Welas asih tidak hanya diajarkan dalam psikologi maupun filsafat barat, namun ajaran filsafat timur juga sangat mendorong sikap ini; bahkan welas asih sendiri justru muncul dari ajaran-ajaran filsafat timur. Welas asih merupakan bagian dari catur paramita (empat keluhuran) yang mencerminkan tingkat perkembangan spiritualitas seseorang.

Meski welas asih itu penting bagi perkembangan diri seseorang, tetapi welas asih perlu diimbangi dengan kebijaksanaan. Kita perlu memisahkan penderitaan orang lain dengan penderitaan diri sendiri; dalam arti, kita mungkin tergerak oleh penderitaan orang lain, tetapi jangan sampai kita terlarut dalam penderitaan orang lain dan ikut merasa menderita. Meredakan tangis orang lain tidak berarti kita harus ikut menangis; menolong orang yang sedang terjatuh bukan berarti kita harus ikut terjatuh. Jangan sampai perasaan welas asih ini justru menjadi bumerang bagi kita.

Dalam filsafat Buddhis, welas asih harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Kita tidak bisa mengasihi orang lain tanpa mengasihi diri sendiri sebelumnya. Ajaran ini kemudian tercermin dalam psikologi, dengan istilah self-compassion atau welas diri. Berwelas diri berarti kita menyadari penderitaan yang sedang dialami oleh diri sendiri dan dengan kemudian kita tidak memusuhi diri karena penderitaan itu. Alih-alih membenci diri yang sedang menderita, kita justru berusaha merangkul diri sendiri.

Ini bisa kita pelajari dari Avisahya. Ketika ia kehilangan seluruh harta bendanya, ia tidak menyalahkan maupun membenci dirinya sendiri. Jika ini terjadi pada orang lain, besar kemungkinan orang itu akan meratapi nasibnya dan membenci kondisinya. Namun berbeda dengan Avisahya, ia justru tidak mengalami itu; alih-alih terlarut dalam perasaan kehilangan, ia justru menghadapinya melalui tindakan: mengambil sabit dan bekerja. Ini adalah contoh welas diri yang tergolong hebat. Kita tahu diri kita sedang menghadapi masalah, tetapi kita mengasihi diri sehingga tidak memberikan kesempatan kepada masalah itu untuk merebut akal sehat kita.

Melatih Altruisme dan Welas Asih

Mengetahui pentingnya altruisme dan welas asih, seperti yang dicontohkan oleh Avisahya dan Matthieu Ricard, lantas bagaimana kita melatihnya?

Kuncinya adalah berkesadaran penuh (mindfulness). Menyadari bahwa semua yang terjadi di sekitar kita adalah rentan terhadap perubahan, dan dengan demikian tidak ada yang perlu kita lekati.

Seringkali orang-orang bersikap egois karena berpikir bahwa dirinya abadi, bahwa ia selamanya akan hidup dalam kondisi yang ia nikmati. Kenyataannya, hidup selalu berputar dan berubah. Kelak ketika ia terjatuh, perasaan egois itu akan memukulnya dengan kuat. Namun berbeda dengan orang-orang yang altruis. Menyadari bahwa kehidupan ini rentan dengan perubahan, ia justru memanfaatkan kondisi positifnya untuk membantu orang-orang yang berada dalam kondisi negatif. Dengan membantu orang lain, kita sesungguhnya belajar untuk tidak melekati apapun. Kita belajar untuk merelakan sebagian kepemilikan kita untuk orang lain, baik itu harta, waktu, maupun tenaga. Dengan demikian, kita secara tidak langsung sudah belajar untuk mengikhlaskan.

Luangkanlah waktu sejenak, kemudian sadari bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini rentan terhadap perubahan. Perubahan itu bisa jadi kita kehendaki, bisa jadi tidak kita kehendaki. Bagaimana jika hidup berubah ke arah yang tidak kita kehendaki? Kemudian sadarilah napas yang keluar masuk dari pangkal hidung kita. Sadari bahwa segala kejadian yang ada di kehidupan ini bagaikan napas itu: timbul dan kemudian tenggelam, untuk kemudian timbul lagi, dan tenggelam lagi.

Referensi:

  • Batson, C. (2011). Altruism in humans. NY: Oxford University Press.
  • Goetz, J.L., Keltner, D., & Simon-Thomas, E. (2010). Compassion: An evolutionary analysis and empirical review. Psychological Bulletin, 136, h.351–374.
  • Hogg, M.A., & Vaughan, G.M. (2018). Social psychology (8th ed.). NY: McGraw-Hill.
  • J.S. Speyer. (1895). Jatakamala or Garland of Birth Stories.
  • Musick, M.A., & Wilson, J. (2003). Volunteering and depression: The role of psychological and social resources in different age groups. Social Science & Medicine, 56(2), h.259–269. 
  • Koenig, L.B., McGue, M., Krueger, R.F., Bouchard (2007). Religiousness, antisocial behavior, and altruism: Genetic and environmental mediation. Journal of Personality, 75(2), h.265–290. 

“Wu Wei”, Filsafat Tao yang Mengajarkan Saya untuk Lebih Rileks

Overthinking menjadi salah satu masalah yang sering saya alami. Hal ini membuat saya sangat terobsesi dengan mengerjakan sesuatu; saya gelisah bila mendadak merasa terlalu santai dan selalu ingin mencari sesuatu untuk dikerjakan. Awalnya saya pikir ini sifat yang baik karena membuat saya menjadi produktif. Tapi nyatanya tidak, saya justru menjadi tidak produktif karena memikirkan terlalu banyak hal yang saya pikir harus saya kerjakan. Produktivitas menurun, kecemasan meningkat. Saya merasa ada yang salah dengan ini.

Saya kemudian secara tidak sengaja mengenal “wu wei”, sebuah konsep dari filsafat Taois yang ternyata memberikan banyak ketenangan kepada saya. Wu wei (無爲) berasal dari Bahasa Mandarin yang sering diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi “doing nothing”, atau “tidak bertindak” dalam Bahasa Indonesia. Sekilas konsep ini seperti menganjurkan kita untuk bermalas-malasan dan bersikap apatis, tetapi bukan itu maksud dari wu wei. “Tidak bertindak” bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa, tetapi lebih kepada untuk hidup mengalir mengikuti alam. Hidup dan bertindak sebagaimana adanya, serta tidak memaksakan sesuatu.

Tidak Semua Hal Berada dalam Kendali Kita

Bayangkan Anda sedang terjebak dalam kemacetan padahal Anda sedang ada janji yang penting, apa yang Anda rasakan? Orang-orang biasa menjawab bahwa mereka akan merasa cemas dan kesal. Mengapa harus macet pada saat-saat seperti ini? Mengapa harus macet pada saat penting? Mengapa kendaraan-kendaraan yang di depan tidak mau mengalah? Dan sebagainya. Macet sering membuat orang merasa kesal, marah, dan cemas.

Namun apakah kemacetan tersebut terurai karena kesal dan marah itu? Faktanya, tidak. Macet tidak bisa diurai melalui emosi marah maupun bersyukur, karena memang tidak ada hubungannya. Ini adalah salah satu contoh bahwa tidak semua hal berada di dalam kendali kita. Jalanan ini, kemacetan ini, kendaraan-kendaraan ini, semuanya berada di luar kendali kita. Kita tidak bisa mengontrol mereka untuk tidak muncul di saat Anda sedang terburu-buru. Bahkan mungkin mobil yang lainnya juga sedang sama marahnya dengan Anda. Karena marah tidak dapat mengurai kemacetan, lantas apa manfaat yang Anda peroleh dari marah? Tidak ada. Justru, Anda kehilangan kebahagiaan dan kedamaian hati Anda. Penyebabnya bukan macet, karena macet juga terjadi pada orang lain; penyebabnya karena Anda ingin mengendalikan apa yang tidak bisa Anda kendalikan.

Jika tidak berada di dalam kendali kita, lalu apa?

Anda tidak punya pilihan lain selain menerima kenyataan ini, sambil mencari jalan alternatif (bila ada). Daripada marah-marah, Anda justru lebih perlu tindakan proaktif. Apakah ada jalan alternatif? Jika ada, bagaimana cara mengaksesnya? Jika tidak ada, apa yang harus dilakukan? Anda bisa mengalirkan energi anda untuk mencari tahu jalan alternatif daripada marah-marah. Atau, bila memang tidak ada jalan alternatif, Anda bisa menghubungi orang yang akan menunggu Anda. Beritahu kondisi Anda dan ucapkan maaf karena akan membuat ia menunggu. Anda akan mendengar bahwa orang itu dapat memaklumi, dan dengan demikian kecemasan Anda mereda. Macet memang tidak terurai, tetapi kecemasan Anda mereda dan Anda merasa lebih lega.

Ini terjadi karena Anda tidak berusaha mengendalikan apa yang memang tidak bisa Anda kendalikan. Wu wei, tidak bertindak untuk hal-hal yang berada di luar kendali kita.

Biarkan Mengalir, Jangan Memaksakan

Kebaikan tertinggi itu seperti air: air bermanfaat bagi berbagai hal di dunia dan tidak bersaing. (Dao De Jing 8)

Kutipan di atas diambil dari Dao De Jing, buku atau kitab yang ditulis oleh Lao Zi, filsuf Taois terbesar. Saat saya masih sekolah dulu, guru saya mengajarkan bahwa air itu bersifat menempati ruang. Jika air dituang ke dalam gelas, ia akan menyesuaikan diri mengikuti bentuk ruang di dalam gelas itu; demikian juga bila air dituang ke dalam botol, tempayan, ember, atau pot sekalipun. Demikianlah, Lao Zi menyarankan kita untuk menjadi seperti air. Bersikaplah fleksibel dan adaptif, mengikuti ruang dan situasi di mana kita berada.

Kadangkala saya merasa cemas karena sudah berupaya maksimal tetapi tidak mendapatkan hasil yang saya inginkan. Saya pun kemudian memaksakan kemauan saya dengan berbagai cara. Apakah itu membuat saya mendapatkan apa yang saya inginkan? Ternyata tidak. Pada saat saya merasa cemas karena kolega saya tidak segera membalas pesan saya, saya menjadi lebih agresif, saya memaksakan agar ia bisa cepat membalas pesan saya. Saya mengirimkan pesan baru terus-menerus sampai mencoba menelepon (meskipun tidak diangkat). Saya pun menjadi bertambah cemas. Pikiran saya berkelana ke mana-mana, “Jika ia tidak membalas pesan saya, maka pekerjaan ini tidak akan selesai tepat waktu. Mengapa ia melakukan ini? Sungguh tidak profesional! Apakah ia menganggap pekerjaan ini tidak penting?” Saya pun kembali kehilangan kebahagiaan saya.

Akhirnya saya berusaha untuk menerima kondisi ini, sebab memang tidak ada yang bisa saya lakukan lagi. Ini di luar kendali saya. Memaksakan kehendak pun hanya membuat saya semakin merasa kesal. Tiga puluh menit kemudian, kolega saya menghubungi saya, meminta maaf karena di tempatnya sedang kesulitan jaringan. Ia pun mengatakan bahwa ia sudah mengerjakan laporan yang diminta, dan dengan demikian saya hanya tinggal memeriksanya dan melaporkan hal ini kepada pihak lain. Selesai! Ternyata kekhawatiran saya tidak benar! Betapa sia-sianya saya sudah kesal dari tadi!

Wu wei mengajarkan kita untuk mengikuti bagaimana kehidupan ini berjalan. Jangan melawan atau memaksa, karena kita adalah bagian dari semesta ini, bukan pengaturnya. Memaksakan kehendak alam hanya akan membuat kita menderita, sedangkan hidup mengalir bersamanya memberikan ketenangan dan kebahagiaan.

Selaraskan Keinginan dengan Realitas

Saat saya sedang magang di rumah sakit jiwa (RSJ) beberapa tahun silam sebagai psikolog, saya sering menemui orang-orang yang mentalnya terganggu karena berusaha melawan jalan kehidupan. Ketika realitas tidak berjalan sesuai kehendak mereka, mereka memaksakannya dan mereka semakin terpukul karena kembali mendapatkan bahwa realitas tidak bisa berjalan sesuai kehendak mereka. Tidak bisa menerima, mereka terus-menerus memaksa. Emosi negatif yang muncul dari kekecewaan tersebut berakumulasi dan menimbulkan masalah mental yang lebih besar. Sebenarnya, untuk bahagia dan sehat mental, mereka tidak perlu memaksakan realitas agar sesuai kehendak mereka, mereka hanya perlu menyesuaikan keinginan mereka sesuai realitas. Ini juga salah satu contoh dari wu wei.

Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Sebagai manusia, kita memiliki keinginan yang tinggi. Ini manusiawi. Namun apa yang terjadi bila kenyataan tidak berjalan sesuai keinginan Anda, atau keinginan Anda tidak terpenuhi? Belajarlah seperti air, menurunkan dirinya untuk tetap selaras dengan alam. Coba untuk turunkan keinginan Anda dan jalankan dulu sesuai realitas yang Anda peroleh. Apakah ini berarti kita harus meninggalkan cita-cita kita? Tentu tidak. Kita hanya sedang menyesuaikan diri, mengikuti dulu situasi kehidupan. Siapa tahu aliran kehidupan ini membawa kita ke hilir yang memang kita tuju?

Konsep ini juga diamini dalam psikologi. Adalah Carl Ransom Rogers, seorang psikolog dan juga bapak psikologi humanistik. Menurut Rogers, permasalahan psikologis yang terjadi pada manusia berasal dari ketidakselarasan antara diri yang ideal (ideal self) dan diri yang sebenarnya (real self). Ideal self adalah citra ideal yang diidam-idamkan manusia, sedangkan real self adalah kondisi yang sesungguhnya. Ketidakselarasan pada dua aspek ini menimbulkan permasalahan psikologis, dan dengan demikian tugas manusia adalah menyesuaikan kedua aspek tersebut sehingga muncul unconditional positive regards (penghargaan positif yang tak berkondisi) kepada diri sendiri.

Hidup di Momen Kini

Seringkali kehidupan berada di luar kendali kita, itu sebuah fakta. Tidak semua keinginan kita pun harus terpenuhi. Tugas kita bukanlah memaksakannya, melainkan menerimanya. Memaksakan hidup agar sesuai dengan keinginan kita hanya membawa kecemasan, kekecewaan, dan kemarahan. Sebaliknya, menjadi air dan hidup mengikuti realitas akan memberikan kita penerimaan dan kedamaian.

Kadangkala saya memaksakan diri harus melakukan sesuatu agar realitas bisa berjalan sesuai keinginan saya. Namun, setelah lebih memahami tentang wu wei, saya akhirnya tahu bahwa kadangkala saya perlu untuk tidak bertindak. Jika memang tidak ada yang bisa dilakukan, ya jangan ngapa-ngapain. Nikmati saja. Sadari saja apa yang sedang terjadi, bergerak harmonis dengannya, dan hidup di momen kini. Tidak perlu terus memikirkan, “bagaimana kalau?”, sebab masa depan sangat tidak pasti.

Dan itu membuat saya merasa damai.

Lakukan yang belum dilakukan,
Layani yang belum dilayani,
Nikmati yang kurang dinikmati,
Buatlah yang lebih besar menjadi lebih kecil
Balaslah kesalahan dengan bantuan ramah.
(Dao De Jing 63)

Referensi:

  • Feist, J., & Feist, G. (2021). Theories of personality (10th ed.). NY: McGraw-Hill.
  • Roberts, M. (Penerj.), (2001). Dao de jing: The book of The Way. CA: University of California Press.

Bagaimana Filsafat Buddhis Mengajarkan Saya tentang Hidup

Awal tahun 2021 ini begitu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada riuh riah di pusat kota untuk menyambut tahun baru, semua diwajibkan untuk tetap berada di kawasan masing-masing dalam menyambut tahun baru. Mencegah penyebaran Covid-19 adalah alasannya.

Covid-19 menjadi isu terbesar selama tahun 2020 – dan mungkin selama 100 tahun terakhir – yang kemudian masih dibawa hingga tahun 2021. Banyak harapan dan doa agar 2021 ini bisa menjadi titik terang berakhirnya wabah penyakit yang menggemparkan dunia ini. Wabah Covid-19 memopulerkan istilah “social distancing” dan “work from home”, dua istilah yang kemudian membuyarkan begitu banyak rencana. Tidak ada kerumunan massa, tidak ada liburan penuh sukacita, tidak ada berkumpul bersama. Saya melakukan banyak adaptasi dan perubahan rencana sepanjang 2020, dan 2021. Awalnya, terdapat banyak sekali penolakan dari dalam diri; tetapi perlahan-lahan saya mulai bisa menerimanya.

Adalah Filsafat Buddhis, yang juga disebut Buddhisme, yang menjadi salah satu pegangan utama saya dalam menjalani hidup ini termasuk ketika saya harus menyesuaikan diri karena perubahan-perubahan dari Covid-19. Filsafat Buddhis membantu saya menerima realitas, lebih damai terhadap diri sendiri, sekaligus menguatkan hati saya dalam berbagai ketidakpastian. Filsafat Buddhis memang erat kaitannya dengan Agama Buddha. Singkat kata, Filsafat Buddhis merupakan Agama Buddha yang hanya diambil ajarannya dan dipinggirkan dulu ritualnya. Izinkan saya menceritakan bagaimana Filsafat Buddhis mengajarkan saya tentang kehidupan melalui tulisan ini.

Harta, Tahta, Wanita versus Tua, Sakit, Mati

Filsafat Buddhis ditemukan oleh Siddhartha Gautama, yang diberi gelar “Buddha” (yang tercerahkan). Siddhartha merupakan anak seorang raja dan kepala suku Sakya; dan praktis beliau lahir dengan tiga hal yang paling diinginkan manusia: harta, tahta, dan wanita. Crazy rich Asian. Sejak belia beliau memiliki tiga istana yang didirikan khusus untuk musim-musim di India, yakni musim semi, musim hujan, dan pancaroba. Soal tahta, jelas sekali beliau akan mewarisi tahta ayahnya yang merupakan seorang raja. Beliau juga memiliki seorang istri yang berasal dari kalangan bangsawan, yang beliau nikahi setelah berhasil mengalahkan bangsawan-bangsawan lainnya dalam sebuah kontes; sebagai bukti bahwa Siddhartha merupakan pasangan yang paling pantas untuk Bimbadewi.

Namun harta, tahta, dan wanita ternyata tidak membuat Siddhartha benar-benar bahagia. Ketika melihat tiga kejadian: (1) penuaan, (2) sakit, dan (3) kematian; Siddhartha menjadi galau. Beliau berpikir, apa guna menikmati kesenangan-kesenangan yang beliau miliki bila ketiga hal itu terus membayangi kehidupan? Bagaimana mungkin mengatakan hidup ini bahagia bila tua, sakit, dan mati itu adalah pasti? Di tengah kegalauan tersebut, beliau melihat seorang pertapa yang berjalan dengan begitu anggun. Tergugah, beliau akhirnya mengukuhkan diri untuk menjadi seorang pertapa (sebuah tradisi spiritual yang umum di tanah India pada saat itu) dan melepaskan harta-tahta-wanita.

Melalui berbagai laku tapa, setelah enam tahun lamanya, beliau akhirnya menemukan hakikat kehidupan ini. Beliau memulai pengajarannya, dan kemudian orang-orang menjulukinya Buddha atau yang tercerahkan. Ajaran beliau kemudian dinamai “Buddha Dharma” (ajaran kebenaran dari Buddha) dan menyebar luas. Berbeda dengan yang kita kenal saat ini, Buddha Dharma atau Ajaran Buddha atau Filsafat Buddhis sebenarnya sangat minim ritual. Pokok praktiknya ada tiga:

  1. Sīla atau menjaga moralitas,
  2. Samadhi atau mempraktikkan kesadaran penuh, dan
  3. Pañña (baca: pannya) atau mengembangkan kebijaksanaan.

Ketiga praktik di atas, yang kemudian dijabarkan lagi menjadi “Jalan Mulia Berunsur Delapan”, menjadi praktik utama dari Filsafat Buddhis.

Tiga Karakteristik Umum

Buddha mengajarkan bahwa kehidupan ini memiliki tiga corak yang universal:

  1. Annica yakni tidak kekal atau terus berubah,
  2. Dukkha yakni tidak memuaskan, dan
  3. Annata yakni ketiadaan inti tunggal dalam makhluk.

Annica merupakan ketidakkekalan; menggambarkan hidup ini yang senantiasa berubah. Tidak ada yang tidak berubah, bahkan Anda pada menit ini sudah berbeda dengan menit sebelumnya – ada proses penuaan yang terjadi begitu halus sehingga tidak kita sadari. Tidak ada yang tetap dan kekal di kehidupan ini; sehingga, menurut Buddha, melekati dan berusaha mati-matian untuk mempertahankan sesuatu adalah tindakan yang membawa penderitaan. Anda boleh menyukai dan menyenangi sesuatu, tetapi Anda perlu tahu bahwa hal itu akan berubah dan bila saatnya tiba, Anda harus bisa menerimanya.

Dukkha bisa diterjemahkan sebagai penderitaan (duka), juga bisa dimaknai sebagai ketidakpuasan. Buddha mengajarkan bahwa Anda tidak akan bisa mendapatkan kepuasan dengan cara mengejar kesenangan-kesenangan dunia. Saat ini Anda menginginkan sepeda, namun setelah memilikinya, Anda kemudian menginginkan sepeda motor. Setelah Anda memiliki sepeda motor, keinginan Anda bertambah; Anda ingin memiliki sebuah mobil. Setelah Anda memiliki mobil, Anda kemudian menginginkan mobil mewah. Pun setelah mobil mewah Anda miliki, Anda masih tidak puas; masih ada mobil yang lebih mewah lagi, kapal pesiar, helikopter, bahkan pesawat. Ini menggambarkan bagaimana manusia tidak pernah puas dan selalu menginginkan lebih. Dan, pandangan ini juga dikonfirmasi oleh ilmu psikologi modern. Psikologi mengenal istilah hedonic treadmill, istilah yang menggambarkan bahwa mengejar kesenangan bagaikan berlari di atas treadmill; Anda terus berlari dan tidak akan pernah selesai.

Anatta merupakan konsep Buddhis yang unik dan amat mendalam. Secara etimologis, Anatta terdiri dari dua kata, yakni (1) An- yang berarti “tidak”, dan (2) Atta yang berarti “jiwa”. Anatta, secara lepas, mungkin bisa diterjemahkan sebagai “tiada inti jiwa”. Nagasena, seorang pengikut Buddha, menjelaskan konsep Anatta kepada Raja Menander melalui perumpamaan kereta perang:

“Apa yang dimaksud dengan kereta perang? Apakah itu roda, atau tuasnya, atau penahannya, atau rangka, atau joknya, atau tiang penggeraknya? Apakah ini kombinasi dari elemen-elemen itu? Atau ditemukan di luar elemen tersebut?”

Pertanyaan yang sama dapat diajukan kepada diri sendiri juga. Apa yang dimaksud dengan diri Anda? Apakah itu mata Anda, hidung, telinga, tangan, kaki, perut, atau yang lainnya? Ataukah Anda merupakan gabungan dari elemen-elemen tersebut?

Memahami bahwa yang disebut “manusia” itu sesungguhnya adalah gabungan dari berbagai unsur (bukan sebuah entitas tunggal yang solid) memberikan pemahaman luar biasa dalam kehidupan: ketika gigi Anda sakit, maka yang sakit sesungguhnya adalah elemen gigi Anda, namun mengapa Anda membiarkan pikiran dan perasaan Anda ikut sakit? Atau, ketika seseorang menghina mata Anda yang terlalu sipit, sesungguhnya yang sedang disebut adalah mata Anda, namun mengapa Anda membiarkan diri Anda marah dan merasa seluruh diri Anda yang sedang dihina?

Melalui tiga corak itu, kita bisa memegang pesan penting dalam hidup: (1) dari anatta, kita tahu bahwa kita tidak bisa melekati dan berusaha untuk terus mempertahankan sesuatu, kita memerlukan sikap melepas atau letting go; (2) dari dukkha, kita tahu bahwa kebahagiaan tidak bisa dicapai dengan terus-menerus mengejar kesenangan, kita memerlukan kepuasan hati; (3) dari anatta, kita tahu bahwa kita tidak bisa menggeneralisasi sebuah kejadian spesifik, kita perlu sikap tenang seimbang atau equanimity; selain itu kita juga tahu bahwa “manusia” sesungguhnya hanyalah label dari gabungan elemen-elemen tertentu, sehingga kita tidak bisa bersikap angkuh atas identitas kita.

Empat Kebenaran Mulia

Jika Anda bisa memahami ketiga corak itu, Anda akan lebih mudah memahami “Empat Kebenaran Mulia”. Sesungguhnya ajaran pertama, sekaligus utama, dari Filsafat Buddhis adalah Empat Kebenaran Mulia, yang terdiri dari:

  1. Kebenaran mulia tentang penderitaan,
  2. Kebenaran mulia tentang sebab penderitaan,
  3. Kebenaran mulia tentang akhir penderitaan,
  4. Kebenaran mulia tentang cara mengakhiri penderitaan.

Kebenaran mulia tentang penderitaan berbicara tentang kehidupan ini yang penuh lika-liku. Jika Anda sudah memahami Anicca dan Dukkha, maka memahami kebenaran ini tidaklah terlalu sulit. Hidup ini terdiri dari penderitaan, ini sebuah fakta yang tidak bisa Anda ingkari, dan penderitaaan ini tidak akan pernah bisa kita hindari. Buddha mendeskripsikan penderitaan sebagai keinginan yang tidak terkabul dan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Kebenaran mulia tentang sebab penderitaan meskipun hidup ini terdiri dari penderitaan, tetapi hidup ini bukanlah sebab dari penderitaan. Sebab dari penderitaan adalah kilesa atau kekotoran batin. Ini merupakan sebuah konsep tersendiri dalam Filsafat Buddhis yang membutuhkan penjabaran lagi, tapi mari kali ini saya sederhanakan dengan sebuah istilah tunggal: “kemelakatan”. Kita menderita karena kita melekat. Melekat di sini berarti tidak siap dengan perubahan, tidak siap melepas, dan selalu berusaha mempertahankan keadaan. Faktanya, semua yang kita miliki akan kita lepaskan pada waktunya. Jika kita tidak siap melepas dan tidak siap berubah, maka kita akan menderita. Ini sebuah fakta yang sudah saya alami sendiri.

Kebenaran mulia tentang akhir dari penderitaan merupakan aspek realistis dari Filsafat Buddhis. Setelah berbicara tentang penderitaan dan sebab penderitaan yang terdengar pesimistis, Buddha menyeimbangkannya dengan mengajarkan adanya akhir penderitaan. Apakah akhir dari penderitaan itu? Secara konsep, Buddha menyebutnya dengan “Nibbana” atau “Nirwana”, yang secara harfiah berarti “Padam”. Apa maksudnya? Bisa kita maknai sebagai padamnya segala nafsu keinginan sehingga penderitaan pun padam. Ketika Anda sudah mencapai tataran Nibbana, Anda melakukan sesuatu karena memang sudah seharusnya Anda lakukan, bukan karena nafsu keinginan lagi (konsep ini disebut dengan kiriya atau fungsional, artinya seluruh tindakan Anda sudah bersifat fungsional). Anda makan karena Anda butuh makanan untuk menjalankan metabolisme dan beraktivitas, bukan untuk memanjakan lidah atau menunjukkan status sosial Anda. Anda bekerja karena Anda butuh uang untuk membiayai kehidupan Anda, bukan untuk menimbun harta-benda dan melekatinya. Anda tidur karena Anda memang butuh istirahat, bukan untuk memanjakan rasa malas Anda. Tidak ada nafsu keinginan, semua hanya fungsional dan “memang seharusnya”. Dengan menjalani hidup sebagaimana harusnya, melalui pemadaman nafsu keinginan dan pemahaman utuh tentang kehidupan, Anda sudah mampu mengakhiri penderitaan.

Kebenaran mulia tentang cara mengakhiri penderitaan menjelaskan cara-cara untuk mencapai kondisi tersebut. Oleh Buddha, cara itu dinamai dengan Majjhima Patipada atau “Jalan Moderat”. Bisa juga disebut “Jalan Tengah” karena sifatnya yang memang moderat dan berada di tengah-tengah. Anda tidak mengikuti hawa nafsu Anda, tetapi bukan berarti Anda juga membiarkan diri Anda tersiksa. Jalani semua dengan moderat, sewajarnya, dan sebagaimana harusnya. Jalan Moderat ini dijabarkan lagi sehingga terdiri dari delapan unsur, dinamai “Jalan Mulia Berunsur Delapan”, yakni:

  1. Pengertian benar,
  2. Pandangan benar,
  3. Ucapan benar,
  4. Perbuatan benar,
  5. Penghidupan / mata pencaharian benar,
  6. Pengupayaan benar,
  7. Perhatian benar, dan
  8. Konsentrasi benar.

Kedelapan unsur di atas, jika direduksi lagi menjadi tiga praktik, akan kembali kepada sila-samadhi-panna, atau: menjaga moralitas, melaksanakan kesadaran penuh, dan mengembangkan kebijaksanaan.

Menjalani Hidup dengan Filsafat Buddhis

Pertama-tama, menjaga moralitas adalah pondasi yang wajib. Ini sudah jelas, jika Anda hidup tanpa moral, Anda akan dikerubungi oleh banyak masalah. Bagaimana mungkin Anda bisa hidup tenang dan damai jika Anda terus-menerus melawan moralitas? Menjaga moralitas bisa dipraktikkan dengan lima panduan ini:

  1. Tidak membunuh,
  2. Tidak mencuri,
  3. Tidak berhubungan seksual secara tidak pantas,
  4. Tidak berucap bohong dan kasar, dan
  5. Tidak mengonsumsi zat yang membuat Anda kehilangan kesadaran / kendali atas kesadaran Anda.

Kedua, jika Anda sudah menjaga moralitas, maka sebagian besar masalah tidak akan muncul dalam hidup Anda. Anda kini memiliki waktu untuk menjalankan kesadaran penuh. Sadari bagaimana Anda beraktivitas sehari-hari; seringkali kita membiarkan diri kita bergerak secara auto-pilot layaknya robot. Mulai sadari bagaimana langkah kaki Anda saat berjalan, bagaimana gerak rahang dan sensasi lidah Anda saat makan, bagaimana perasaan Anda ketika menghadapi kejadian-kejadian tertentu. Menariknya, sains / ilmu pengetahuan sangat tertarik dengan kesadaran penuh ini (dalam psikologi dan neurosains, konsep ini disebut sebagai “mindfulness”). Secara spesifik, Buddha juga menyarankan kita untuk melakukan praktik mindfulness melalui posisi duduk (sitting), atau di Indonesia sering disebut dengan meditasi atau semadi. Berkesadaran penuh akan membantu kita untuk lebih tenang dan lebih damai dalam menjalani kehidupan ini.

Ketiga, setelah Anda mampu menjaga moralitas dan menjalankan hidup berkesadaran penuh, maka kebijaksanaan Anda akan berkembang dengan sendirinya. Anda juga bisa secara aktif mengembangkan kebijaksanaan melalui belajar. Mempelajari hakikat kehidupan akan membantu Anda lebih memahami bagaimana Anda seharusnya bersikap dalam kondisi-kondisi tertentu. Seringkali, kita bersikap salah dalam menyikapi hidup; mungkin terlalu reaktif atau justru bersikap menghindari. Kebijaksanaan akan membantu kita memiliki sikap dan problem solving yang mendukung kebahagiaan kita.

Penutup

Ketika moralitas sudah terjaga, kesadaran penuh sudah dijalankan, dan kebijaksanaan sudah dikembangkan secara penuh; maka seluruh tindakan kita dalam kehidupan akan bersifat fungsional. Menjalani hidup secara benar dan sebagaimana harusnya. Inilah cara hidup yang memberikan kebahagiaan, dan saya pelajari ini dari Filsafat Buddhis.

Oh iya, tentu saja saya belum berhasil mempraktikannya dengan sempurna. Namun menulis ini membantu saya untuk terus mempraktikannya dalam hidup saya.

Referensi:

  • Dhammananda, B. (2002) What buddhist believe (4th ed.). Malaysia: Buddhist Missionary Society Malaysia.
  • Dhammika, S. (2005). Good questions, good answers. Singapore: Buddha Dharma Mandala Society.
  • Pesala, B. (1990). The debate of King Milinda. Delhi: Motilal Banarsidass.