Bincang Buku “Psikologi Positif” Bersama Penerbit Kompas

Buku saya yang baru saja terbit Oktober 2021 ini, yang berjudul “Psikologi Positif”, baru-baru ini dibahas dan dibedah pada tanggal 4 Desember 2021. Adapun tokoh-tokoh yang hadir dan terlibat adalah:

Garvin Goei, M.Psi.
– Penulis buku “Psikologi Positif”
– Ketua Program Studi Psikologi Universitas Bunda Mulia
– Ketua Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

M. Taufiq Amir, Ph.D.
– Penulis buku “Resiliensi”
– Ketua Program Studi Manajemen Universitas Bakrie

Eunike Sri Tyas, Suci, Ph.D.
– Ketua Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia
– Dosen Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya

Moderator: Wirdatul Aini
(Peneliti Litbang Kompas)

WhatsApp Image 2021 11 30 At 09.47.12 1024x1024

Sebenarnya saya agak gugup ketika sesi ini hendak dimulai, karena buku saya ini akan dibahas oleh dua tokoh senior dalam dunia psikologi dan manajemen. Bahkan saya sudah menyiapkan hati dan mental bila mendapat kritik yang banyak. Tapi ternyata buku ini mendapat penerimaan yang baik! Ibu Tyas menilai bahwa buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang sangat mudah dicerna, dan mengingatkan beliau kepada buku “Filosofi Teras”. Bagi saya ini adalah pujian yang terhormat, karena saya memang menyukai buku Filosofi Teras dan alasan saya mengirimkan naskah buku ini ke Kompas adalah karena saya ingin satu “penerbit” dengan Filosofi Teras!

Pak Taufiq Amir juga memberikan penerimaan yang hangat terhadap buku ini. Saya sempat membaca tulisan beliau di sebuah grup WA, di mana beliau membahas tentang perkembangan Psikologi Positif dan beliau juga mengungkit keberadaan buku ini. Bahkan di LinkedIn, saya juga menemukan bahwa beliau sedang mengungkit buku ini! What an honor!

Terima kasih kepada para senior yang berkenan memberi dukungan kepada junior yang mulai memberanikan diri untuk menulis ini.

Telah Terbit buku “Psikologi Positif” Karya Garvin Goei!

Melalui post ini, izinkan saya mengumumkan bahwa buku saya yang berjudul “Psikologi Positif” telah terbit dan bisa dibeli di Toko Buku Gramedia ataupun marketplace daring lainnya!

Pertama-tama, Psikologi Positif bukan ilmu yang mengajarkan untuk terus berpikir positif. Adapun sama-sama mengandung kata “positif” di dalamnya, itu hanya kebetulan. Psikologi Positif adalah sebuah perspektif lain dalam psikologi: Jika psikologi identik dengan sakit mental, gangguan kepribadian, terapi, dan sebagainya yang bertemakan kekurangan manusia; maka Psikologi Positif berbicara tentang mental yang sehat, kepribadian yang sehat, cara menjalani hidup dengan baik, dan segala sesuatu tentang kelebihan manusia yang bisa dikembangkan.

Psikologi Positif 300x300

Alih-alih berbicara tentang masa lalu yang kelam, psikologi positif berbicara tentang memaafkan. Jika psikologi identik berbicara tentang kecemasan, psikologi positif berbicara tentang pengharapan. Tujuannya adalah melengkapi pembahasan dalam psikologi, bahwa psikologi bukan hanya berbicara tentang gangguan-gangguan saja.

Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Kompas, penerbit buku terbaik se-Indonesia (informasi random: buku Filosofi Teras juga diterbitkan oleh Kompas).

“Psikologi Positif” dapat dibeli di Toko Buku Gramedia, atau bisa dibeli secara daring di Tokopedia maupun Shopee (saya sudah menemukan beberapa merchant sudah menjualnya. Atau mau beli secara daring melalui Gerai Kompas juga bisa.

Thank you!

Childfree Atau Tidak? Pandangan Dari Psikolog

Punya anak atau tidak punya anak?

Topik ini sedang menjadi perdebatan yang seru, masing-masing kukuh bahwa pilihan mereka adalah yang terbaik. Bagi golongan pro punya anak, punya anak akan memberikan kebermaknaan karena bisa merasa menjadi orangtua (hidup lebih lengkap) dan ada rasa aman bahwa di hari tua nanti ada yang merawat. Bagi golongan kontra punya anak (childfree), mempunyai anak tanpa mempertimbangkan kondisi finansial adalah hal yang egois, dan juga mempunyai anak tidak menjamin kebahagiaan maupun keamanan di hari tua, karena anak memiliki kehendak bebas untuk menjalani hidupnya nanti.

Mari kita bedah kedua pandangan ini secara psikologis.

Kita mulai dari riset Deaton & Stone dari Princeton University pada tahun 2014. Riset mereka menemukan bahwa pasangan yang memiliki anak atau tidak memiliki anak sebenarnya memiliki tingkat kepuasan hidup yang kurang lebih setara. Adalah benar bahwa pasangan yang memiliki anak memiliki emosi positif yang lebih tinggi daripada yang tidak, tetapi mereka juga sekaligus lebih banyak merasakan stres dan kecemasan daripada yang tidak memiliki anak.

Memiliki anak akan memberikan pengalaman baru dalam hidup yang membuat pasangan merasakan kebermaknaan, tetapi dengan kehadiran anak, muncul juga tugas-tugas dan tanggung jawab baru sebagai orangtua. Hal ini yang akhirnya membuat pasangan yang memiliki anak lebih banyak merasakan emosi positif sekaligus emosi negatif. Peneliti sendiri mengumpamakan bahwa kebahagiaan para orangtua ibarat roller coaster: memang lebih tinggi, tetapi lebih banyak naik-turun. Hal ini berbeda dengan pasangan yang tidak memiliki anak (childfree). Mereka memang tidak mengalami emosi positif sebanyak pasangan yang memiliki anak, tetapi mereka juga tidak mengalami kecemasan dan stres dari pasangan yang memiliki anak; dengan demikian kebahagiaan mereka lebih stabil.

Tiba-tiba saya teringat dengan sebuah riset yang pernah saya baca dulu sekali, yang mengumpamakan bahwa kebahagiaan orangtua itu seperti huruf U: ketika anak baru lahir, mereka mengalami peningkatan kebahagiaan yang signifikan, tetapi tingkat kebahagiaan itu akan terus menurun seiring dengan bertambahnya usia anak (karena menjadi orangtua itu banyak tuntutan dan tanggung jawab). Tetapi ketika anak sudah dewasa dan mandiri, tingkat kebahagiaan orangtua akan kembali menanjak naik. Tapi jujur saja saya lupa riset ini dilakukan oleh siapa, sehingga sudah sulit saya cari lagi referensinya.

Oh iya, kita kembali lagi ke pembahasan sebelumnya. Jika orangtua lebih bahagia juga sekaligus lebih merasakan cemas dan stres, apa sih hal yang membuat mereka lebih cemas dan stres? Riset yang dilakukan oleh Glass, Simon, dan Andersson pada tahun 2016 menyatakan bahwa sumber stres orangtua adalah:

  • tuntutan waktu,
  • tuntutan energi,
  • kurangnya waktu tidur,
  • terganggunya work-life balance (terutama ibu yang bekerja), dan
  • tuntutan finansial.

Sehingga dikatakan bahwa, jika ingin bahagia dengan memiliki anak, maka kelima hal tersebut harus bisa diatasi terlebih dahulu. Jika pasangan sudah siap untuk membagi waktu, energi, finansial, dan perhatian mereka jika anak sudah hadir, maka hal tersebut akan memberi kebahagiaan.

Jadi kebahagiaan tidak serta-merta muncul ketika memiliki anak; harus diimbangi dengan faktor-faktor di atas tadi, yakni mampu menyeimbangkan waktu, membagi energi untuk mengasuh anak, dan memiliki sokongan finansial yang cukup. Lalu, riset dari Becker, Kirchmaier, dan Trautmann (2019) juga menemukan bahwa pasangan yang memiliki anak akan lebih bahagia dari pasangan childfree ketika sang anak sudah dewasa dan keluar dari rumah, alias sudah mapan. Mungkin ini berkaitan dengan rasa puas dan kebermaknaan yang muncul karena mampu membesarkan seseorang dari tidak berdaya (bayi) menjadi mandiri.

Nah, sekarang mana yang lebih baik: lebih bahagia tetapi juga lebih banyak tuntutan sehingga naik-turun, atau tingkat bahagianya sedikit lebih rendah tetapi stabil? Tidak ada yang lebih baik, itu pilihan masing-masing.

Rasanya menyatakan baik itu “memiliki anak” atau “tidak memiliki anak” sebagai keputusan terbaik adalah sebuah pernyataan yang keliru, setidaknya saya memiliki tiga argumen untuk hal ini:

Pertama, kebahagiaan memiliki anak itu ternyata sangat terikat oleh budaya. Riset dari Glass, Simon, dan Andersson (2016) yang membandingkan tingkat kebahagiaan pasangan memiliki anak dan pasangan tidak memiliki anak dari 22 negara memunculkan hasil yang beragam. Misalnya, pasangan-pasangan yang tidak memiliki anak di Amerika Serikat, Australia, dan Inggris Raya cenderung lebih bahagia daripada yang memiliki anak; tetapi temuan ini berbeda di negara Norwegia dan Hungaria, di mana pasangan yang memiliki anak justru lebih bahagia daripada yang tidak memiliki anak.

Apa yang membuat hasil bisa berbeda antar negara? Ternyata yang membedakan adalah aturan yang berlaku di negara tersebut. Memiliki anak lebih bahagia daripada tidak memiliki anak di Norwegia, hal ini karena pasangan yang baru saja memiliki anak mendapatkan durasi cuti yang lebih panjang, kemudian juga ada subsidi dari pemerintah untuk kebutuhan anak, pun biasanya ada pemberlakuan jadwal kerja yang lebih fleksibel bagi pekerja yang memiliki anak. Aturan ini membuat orangtua menjadi lebih bahagia dibandingkan negara-negara lain.

Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata riset tersebut tidak melibatkan partisipan dari Indonesia sehingga tidak ada temuannya.

Kedua, riset dari Deaton & Stone sudah menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan memiliki anak maupun tidak memiliki anak itu relatif setara. Bedanya, kebahagiaan memiliki anak lebih seperti roller coaster sedangkan kebahagiaan tidak memiliki anak lebih stabil. Mana yang lebih baik? Itu subjektif penilaian Anda.

Ketiga, sumber kebahagiaan terbesar manusia bukanlah dari anak. Psikologi Positif merumuskan bahwa kebahagiaan seseorang dapat diprediksi dari lima faktor: (1) emosi positif, (2) kemampuan untuk menikmati aktivitas sehari-hari (engagement), (3) hubungan sosial yang bermakna, (4) kebermaknaan hidup, dan (5) rasa pencapaian atau kemajuan dalam hidup. Di antara kelima faktor tersebut, berbagai hasil penelitian sudah menemukan kesepakatan bahwa sumber terbesar bagi kebahagiaan manusia adalah hubungan sosial yang bermakna. Memang, memiliki anak juga akan menambahkan kualitas hubungan sosial manusia; tetapi pasangan childfree juga bisa memerolehnya melalui relasi sosial dengan manusia lain.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, saya pikir baik keputusan untuk memiliki anak maupun tidak memiliki anak (childfree) tidak ada yang lebih baik, karena keduanya sama-sama memiliki kesenangan dan kesusahannya masing-masing. Dari sini setidaknya kita bisa mengambil sikap; mereka yang memiliki anak tidak bisa serta-merta menghakimi mereka yang childfree akan lebih menderita; dan demikian juga mereka yang childfree tidak dapat menghakimi mereka yang memiliki anak akan lebih menderita. Karena faktanya: kurang lebih tingkat kebahagiaannya kebahagiaannya setara!

Mungkin kembali ke sebuah simpulan yang klise: kita, terutama orang Indonesia, perlu lebih belajar untuk menghargai keputusan hidup orang lain. Hanya karena keputusannya berbeda dengan keputusan kita, bukan berarti kita berhak menghakiminya atau merasa lebih baik dari dirinya. Perbedaan pendapat bukan berarti salah satu benar dan salah satu salah, perbedaan pendapat juga bisa berarti kedua-duanya benar atau kedua-duanya salah.

Namun ada satu teman menjawab, “Tapi di agama saya, punya anak itu wajib hukumnya!” Jika demikian, maka benar bahwa memiliki anak adalah pilihan terbaik… bagi penganut agama tersebut. Memiliki anak adalah pilihan terbaik sebab membuat mereka dapat menyempurnakan ibadah mereka. Dan non-penganut agama tersebut, terutama yang pro childfree, harus bisa menghargainya bahwa itu memang pilihan terbaik bagi mereka; minimal dengan tidak mengomentari keyakinan mereka.

Lalu, jika ditanya, saya ingin memiliki anak atau tidak? Sulit dijawab, karena keputusan untuk memiliki anak atau tidak bukanlah keputusan yang bisa diambil sendirian, melainkan harus diambil bersama pasangan.

Demikian hasil ngopi dan bengong saya pada sore hari ini. Semoga ada faedahnya.

[Jakarta, 24 Agustus 2021]

Focused Group Discussion – Kurikulum Kampus Merdeka, F.Psi. UMB

27 November 2020, saya mendapatkan undangan untuk mengikuti focused group discussion mewakili Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara untuk membahas implementasi kurikulum kampus merdeka di Fakultas Psikologi Mercu Buana. Sebuah undangan yang sulit untuk “diiyakan”, karena saya sebelumnya tidak pernah memikirkan ataupun memiliki opini terkait kurikulum kampus merdeka. Tapi melihat potensi informasi yang mungkin bisa menambah wawasan saya dari FGD ini, maka saya mengiyakan.

Dipimpin oleh Muhammad Iqbal, Ph.D. selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, FGD ini diikuti oleh beberapa ketua asosiasi psikologi:

  1. Urip Purwono, Ph.D. (ketua Asosiasi Psikometrika Indonesia)
  2. Dr. Mirra Noor Milla (ketua Ikatan Psikologi Sosial)
  3. Dr. Agus Abdul Rahman (ketua Asosiasi Psikologi Islam)
  4. Dr. Zora A. Sukabdi (ketua Asosiasi Psikologi Forensik wilayah Jakarta)

Adapun catatan yang saya peroleh terkait hasil FGD ini adalah sebagai berikut:

  1. Kompetensi dari pembelajaran pengukuran psikologi adalah agar lulusan paham cara menggunakan alat tes psikologi dengan benar, bukan hanya sekadar menggunakannya saja. (Pak Urip)
  2. Dengan adanya disrupsi yang membuat semuanya harus berjalan online, maka etika penggunaan tes psikologi perlu lebih diperhatikan. Banyak alat tes yang diajarkan di perguruan tinggi justru belum memiliki lisensi. (Pak Urip)
  3. Mahasiswa, sebagai realisasi kurikulum kampus merdeka, bisa mendalami psikologi forensik melalui keterlibatan di dalam kegiatan Apsifor melayani pengadilan: (1) melakukan profiling, (2) melakukan autopsi psikologi, dan (3) melakukan wawancara kepada saksi maupun tersangka. (Ibu Zora)
  4. Lulusan psikologi perlu lebih fleksibel, jangan terlalu terpaku pada prosedur yang baku, proses pelayanan kepada masyarakat hendaknya dilakukan dengan lebih fleksibel. Hal ini agar lulusan psikologi tidak kalah saing dengan profesi / pelayan publik lainnya. (Ibu Zora)
  5. Himpsi dan Asosiasi jangan sampai menjadi seperti biro, karena nanti tidak ada yang mengawasi. Tugas asosiasi justru melakukan pengawasan (Pak Agus)
  6. Lulusan psikologi jangan hanya terlalu berfokus pada assessment, juga harus tahu tatacara intervensi psikologis yang benar. (Pak Agus)
  7. Mahasiswa bisa terlibat dalam proyek penelitian yang akan memberikan kontribusi terhadap public policy. (Ibu Mirra)
  8. Perlu ada big data yang mengintegrasi berbagai informasi, jangan sampai perbedaan instansi memiliki informasi yang berbeda bahkan berlainan. (Ibu Mirra)

Meski hanya dilaksanakan selama 90 menit, namun FGD ini memberikan informasi serta wawasan yang sangat luas. Terima kasih Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana atas undangannya, semoga sukses untuk pelaksanaan kurikulum kampus merdeka serta pembukaan Program Studi Magister Psikologi Profesi.

Pengalaman menjadi Pemakalah Terbaik International Seminar of Psychology 2020

Sebuah pengalaman yang tidak diduga-duga. Pada tanggal 10 dan 11 Januari lalu, saya mengikuti International Seminar of Psychology 2020 di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jawa Tengah. Tujuannya adalah saya ingin mempresentasikan hasil riset saya mengenai kesesuaian memilih9 jurusan kuliah dengan minat pelajar di Jakarta. Sebagai informasi, sebagai seorang dosen profesional, saya memiliki tiga kewajiban utama, yakni melakukan (1) pengajaran, (2) penelitian, dan (3) pengabdian kepada masyarakat. Penelitian yang saya lakukan pun harus saya seminasikan, baik melalui jurnal ilmiah maupun melalui konferensi ilmiah seperti yang saya ikuti ini.

Acara berjalan dua hari. Pada hari pertama adalah pemaparan dari keynote speaker seminar ini, yakni (1) Dr. Wan Mohd Azam Wan Mohd Yunus dari Universiti Teknologi Malaysia, (2) Dr. Muhamad Sophian dari Universiti Malaysia Sarawak, dan (3) Dyah Astorini Wulandari, Ph.D. (Cand.) dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Indonesia. Sesi ini berlangsung dengan menarik, apalagi Dr. Sophian membawa alat neurofeedback dan mensimulasikannya langsung di depan para peserta. Sayangnya saya tidak sempat mengikuti workshop mengenai neurofeedback yang beliau bawakan karena keterlambatan informasi dari panitia.

Usai sesi pembukaan dan pemaparan dari para keynote speaker berakhir, maka acara dilanjutkan dengan sesi paralel. Dalam sesi paralel ini, saya berkesempatan untuk mempresentasikan penelitian saya, yang bisa dibaca di sini. Presentasi harus dilakukan dalam Bahasa Inggris, mengingat peserta seminar ini tidak hanya berasal dari Indonesia saja. Cukup menantang tetapi tetap menyenangkan.

Di akhir sesi, saya mendapatkan informasi yang tidak saya duga-duga. Saya mendapat predikat sebagai best presenter (pemakalah terbaik) dalam kegiatan ini! Maka, bingkisan hadiah dan sertifikat sebagai best presenter saya peroleh. Sebuah pencapaian yang menyenangkan, terutama untuk memulai tahun 2020 ini.

Maka dengan berakhirnya seminar internasional ini, saya membawa semangat yang terisikan kembali untuk terus meneliti dan memberi manfaat bagi perkembangan ilmu psikologi di Indonesia.

Salam.