Focused Group Discussion – Kurikulum Kampus Merdeka, F.Psi. UMB

27 November 2020, saya mendapatkan undangan untuk mengikuti focused group discussion mewakili Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara untuk membahas implementasi kurikulum kampus merdeka di Fakultas Psikologi Mercu Buana. Sebuah undangan yang sulit untuk “diiyakan”, karena saya sebelumnya tidak pernah memikirkan ataupun memiliki opini terkait kurikulum kampus merdeka. Tapi melihat potensi informasi yang mungkin bisa menambah wawasan saya dari FGD ini, maka saya mengiyakan.

Dipimpin oleh Muhammad Iqbal, Ph.D. selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, FGD ini diikuti oleh beberapa ketua asosiasi psikologi:

  1. Urip Purwono, Ph.D. (ketua Asosiasi Psikometrika Indonesia)
  2. Dr. Mirra Noor Milla (ketua Ikatan Psikologi Sosial)
  3. Dr. Agus Abdul Rahman (ketua Asosiasi Psikologi Islam)
  4. Dr. Zora A. Sukabdi (ketua Asosiasi Psikologi Forensik wilayah Jakarta)

Adapun catatan yang saya peroleh terkait hasil FGD ini adalah sebagai berikut:

  1. Kompetensi dari pembelajaran pengukuran psikologi adalah agar lulusan paham cara menggunakan alat tes psikologi dengan benar, bukan hanya sekadar menggunakannya saja. (Pak Urip)
  2. Dengan adanya disrupsi yang membuat semuanya harus berjalan online, maka etika penggunaan tes psikologi perlu lebih diperhatikan. Banyak alat tes yang diajarkan di perguruan tinggi justru belum memiliki lisensi. (Pak Urip)
  3. Mahasiswa, sebagai realisasi kurikulum kampus merdeka, bisa mendalami psikologi forensik melalui keterlibatan di dalam kegiatan Apsifor melayani pengadilan: (1) melakukan profiling, (2) melakukan autopsi psikologi, dan (3) melakukan wawancara kepada saksi maupun tersangka. (Ibu Zora)
  4. Lulusan psikologi perlu lebih fleksibel, jangan terlalu terpaku pada prosedur yang baku, proses pelayanan kepada masyarakat hendaknya dilakukan dengan lebih fleksibel. Hal ini agar lulusan psikologi tidak kalah saing dengan profesi / pelayan publik lainnya. (Ibu Zora)
  5. Himpsi dan Asosiasi jangan sampai menjadi seperti biro, karena nanti tidak ada yang mengawasi. Tugas asosiasi justru melakukan pengawasan (Pak Agus)
  6. Lulusan psikologi jangan hanya terlalu berfokus pada assessment, juga harus tahu tatacara intervensi psikologis yang benar. (Pak Agus)
  7. Mahasiswa bisa terlibat dalam proyek penelitian yang akan memberikan kontribusi terhadap public policy. (Ibu Mirra)
  8. Perlu ada big data yang mengintegrasi berbagai informasi, jangan sampai perbedaan instansi memiliki informasi yang berbeda bahkan berlainan. (Ibu Mirra)

Meski hanya dilaksanakan selama 90 menit, namun FGD ini memberikan informasi serta wawasan yang sangat luas. Terima kasih Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana atas undangannya, semoga sukses untuk pelaksanaan kurikulum kampus merdeka serta pembukaan Program Studi Magister Psikologi Profesi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *