Talkshow Tiga Tradisi (Triyana) dalam Buddhisme – KMB Dharmayana Untar

Ada banyak tradisi dalam buddhisme, yang sering saya sebut sebagai “MTV” (Mahayana, Theravada, dan Vajrayana). Bagaimana menyikapi perbedaan tradisi tersebut? Apakah ada cara untuk memilih tradisi yang paling tepat? Bagaimana untuk dapat hidup harmonis dalam perbedaan tersebut?

Pada hari Sabtu, 7 Mei 2022 saya berkesempatan menjadi moderator untuk talkshow yang berjudul “DIMENTION: Differences Create Perfect Combination” yang diselenggarakan oleh KMB Dharmayana Universitas Tarumanagara dalam rangka Perayaan Waisak 2566 B.E. / 2022 M. Adapun talkshow ini mengundang tiga anggota Sangha dari tiga tradisi, yakni:

  1. Bhikkhu Uttamo Mahathera dari tradisi Theravada,
  2. Bhiksu Nirmana Sasana / Suhu Xue Hua dari tradisi Mahayana, dan
  3. Khenpo Khentse Norbu Rinpoche dari tradisi Vajrayana.
Bhante Uttamo

Adapun beberapa poin yang bisa saya peroleh dari talkshow ini adalah:

  • Bhiksu Nirmana Sasana mengumpamakan perbedaan sebagai lukisan: justru harus berbeda-beda baru terlihat indah. Bahkan sebuah lukisan minimal harus terdiri dari dua warna, yakni warna kanvas itu sendiri dan warna yang berbeda dengan kanvas agar bisa menjadi sebuah gambar. Demikianlah sebuah kemajemukan harusnya bisa menjadi harmoni yang indah.
  • Bhikkhu Uttamo menggunakan perumpamaan tangan: kita memiliki tangan kanan dan kiri yang berbeda, tetapi justru saling melengkapi. Bahkan tubuh kita terdiri dari organ-organ yang berbeda. Jika diri kita sendiri saja terdiri dari perbedaan, mengapa kita menolak perbedaan di luar kita?
  • Khenpo Rinpoche mengatakan bahwa sesungguhnya kita semua adalah sama, yakni sama-sama ingin bahagia. Bila ada perbedaan, perbedaan itu hanya sedikit. Rinpoche juga memberi ciri untuk mengetahui tradisi Buddhisme yang tepat, yakni:
    1. Memiliki keyakinan terhadap Triratna (Buddha, Dharma, dan Sangha),
    2. Memiliki keyakinan terhadap hukum sebab akibat / hukum karma, dan
    3. Memiliki keyakinan terhadap kelahiran kembali.
  • Menjawab sebuah pertanyaan dari peserta asal Xiamen terkait seseorang yang mempraktikkan dua tradisi sekaligus, Bhikkhu Uttamo mengatakan bahwa perbedaan itu hanyalah sebatas tradisi; dan buddhisme ajaran yang menyesuaikan diri dengan budaya lokal, misalnya Chinese Buddhism dan Tibetan Buddhism.
  • Bhiksu Nirmana Sasana kemudian menambahkan bahwa Sang Buddha tidak pernah memberi label tradisi Theravada, Mahayana, maupun Vajrayana; manusia lah yang membuat perbedaan tersebut. Tetapi kita memang tidak mungkin menghindari perbedaan, bahkan satu sekolah maupun universitas pun memberikan pelajaran yang berbeda-beda.
  • Kemudian ada pertanyaan dari seorang peserta asal Bandung yang menanyakan mengenai alasan Vajrayana menekankan totalitas murid kepada guru dan keberadaan ajaran rahasia Vajrayana. Oleh Khenpo Rinpoche, dikatakan bahwa jika ingin berhasil maka kita harus sungguh-sungguh berlatih kepada guru. Dengan syarat kita harus mendapatkan guru yang tepat, karena saat ini banyak guru yang tidak tepat, misalnya yang terlibat dalam kegiatan politik. Jika kita bisa menemukan guru yang tepat, maka kita harus 100% belajar dengan sungguh-sungguh dan kita akan mendapatkan hasilnya.
  • Terkait ajaran rahasia dalam Vajrayana, Khenpo Rinpoche mengatakan bahwa dalam tingkatan tertentu, Vajrayana memberikan pengajaran terakhir yang amat mendalam yang perlu dipraktikkan secara hati-hati dan harus disertai dengan pandangan yang benar. Berdasarkan tradisi Vajrayana, ajaran ini diberikan oleh Sang Buddha sebelum wafat – sebagai khutbah terakhir – kepada Ananda, Maha Kasyapa, dan Sariputra.
Dharmayana Untar
  • Ada seorang peserta yang menanyakan tentang aliran Buddha Maitreya. Baik Bhikkhu Uttamo dan Bhiksu Nirmana Sasana mengatakan bahwa Maitreya / Metteya masih merupakan seorang Bodhisattva, bukan seorang Buddha. Lagipula, ajaran Buddha Gotama dan Buddha Maitreya kelak adalah sama. Bhiksu Nirmana Sasana mengatakan bahwa aliran Maitreya ini mungkin berbeda dengan Maitreya yang ada dalam ajaran sutta / sutra, dan Bhikkhu Uttamo menyarankan agar kita cukup menyikapi keberadaan aliran ini dengan tenang saja, karena kita tidak perlu menyalahkan orang lain untuk merasa benar.
  • Topik pembahasan menjadi semakin dalam ketika ada peserta yang menanyakan mengenai Buddha Amitabha dan Bhaisajya Guru dalam tradisi Mahayana. Bhiksu Nirmana Sasana mengatakan bahwa dalam Saddharmapundarika Sutra diceritakan ada Buddha lain sebelum Buddha Gotama / Sakyamuni. Adapun Buddha Sakyamuni mengajarkan tentang Buddha Amitabha sebagai bentuk penyesuaian khutbah dengan kualitas pendengar. Bagi orang-orang berusia lanjut yang tidak memiliki banyak waktu untuk mempelajari Buddha Dharma dari awal, sehingga Buddha memberikan pengajaran Nian Fo di mana seseorang melafalkan nama Buddha dengan konsentrasi dan pikiran yang jernih sehingga dapat terlahir di alam Sukhavati dan mendapatkan pengajaran dari Buddha Amitabha dalam kelahiran selanjutnya.
  • Adapun Bhiksu Nirmana Sasana mengatakan bahwa kita tidak perlu memilih-milih ingin terlahir di tanah Buddha Amitabha atau Bhaisajya Guru, sebab pada dasarnya kita saat ini sudah terlahir di tanah Buddha, yakni Buddha Sakyamuni.
  • Terakhir, seorang peserta menanyakan tentang makna mantra “Om Mani Padme Hum”. Khenpo Rinpoche menjelaskan bahwa mantra ini merupakan mantra Arya Avalokitesvara Bodhisattva yang diturunkan dari Buddha Amitabha. Adapun maksudnya adalah:
    • “Om” menggambarkan trikaya, yakni (1) nirmanakaya, (2) samboghakaya, dan (3) dharmakaya.
    • “Mani” adalah permata, yakni Triratna, dan bisa juga melambangkan welas asih, cinta kasih, dan Bodhicitta.
    • “Padme” berarti teratai, di mana teratai yang bersih dan indah tumbuh di atas lumpur yang kotor; demikianlah pikiran, ucapan, dan perbuatan kita harus tetap bersih di manapun.
    • “Hum” adalah ungkapan permohonan, dalam artian meminta agar kebajikan-kebajikan tadi diberikan kepadanya.
Dhammatalk Bhante Uttamo

Demikianlah kegiatan talkshow yang dihadiri dengan sangat antusias oleh para peserta, bahkan saat durasi sesi sudah melebihi 30 menit dari waktu yang seharusnya, masih banyak pertanyaan yang masuk. Mungkin ini adalah pertanda bagi KMB Dharmayana agar kegiatan serupa dilaksanakan kembali?

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Mempelajari Prinsip Sukses Para Konglomerat dari Buku Taipan

Minggu lalu (20 Maret 2022) saya baru saja menyelesaikan trilogi “Taipan”, sebuah novel sejarah yang menceritakan para taipan (bos besar) Indonesia. Disebut novel sejarah karena buku ini menceritakan kisah hidup para konglomerat Indonesia dengan gaya bercerita ala novel yang dramatis; disebut trilogi karena terdiri dari tiga seri dan tebal-tebal bukunya, buku pertama sekitar 700an halaman, buku pertama sekitar 400an halaman, dan buku ketiga sekitar 900an halaman – total sekitar 2000an halaman.

Pertama-tama, perlu diketahui bahwa hampir semua tokoh di dalam novel ini adalah nama samaran. Jadi, kita tidak akan mengetahui siapa orang yang sedang diceritakan di dalam buku ini, kecuali kita mencari tahu melalui Google. Dugaan saya, penulis novel ini sengaja menyamarkan nama para tokoh untuk menghindari pelanggaran hukum, sebab sebagian besar orang yang diceritakan di dalam buku ini masih hidup dan masih berstatus bos besar. Kedua, sumber data dari buku ini kurang dijabarkan dengan jelas – yang sebenarnya wajar saja, sebab ini adalah buku novel, bukan buku sejarah atau buku teks. Tetapi jika saya mengamati dan membandingkan informasi dari buku ini dengan sumber-sumber lain yang saya temukan di internet, saya menduga penulis buku ini mengambil berbagai wawancara dengan tokoh, dari berita-berita yang bermunculan pada masa itu, hingga gosip-gosip yang menyebar secara tidak resmi. Pun saya menduga ada beberapa tokoh yang memang diwawancara langsung oleh sang penulis, mengingat latar belakang sang penulis buku ini – William Yang – adalah seorang konsultan bisnis senior.

Tulisan ini akan membahas buku Taipan yang pertama, yang diberi sub-judul “Lahirnya Para Konglomerat”. Buku pertama ini memiliki dua tokoh utama yang diceritakan secara terpisah, yakni (1) Wang Zhen alias Constantine King dan (2) Zhou Sheng Ru alias Budi Firdaus (ingat, keduanya adalah nama samaran). Constantine King adalah anak seorang pedagang di Malang yang sejak kecil sudah bercita-cita ingin menjadi seorang bankir, karena ia selalu melihat pegawai bank yang berseragam rapi dan terlihat berwibawa. Namun orangtua Constantine selalu mematikan cita-citanya dengan mengatakan bahwa ia hanyalah anak seorang pedagang dan tidak memiliki kesempatan untuk menjadi bankir. Nantinya Constantine pergi merantau dan mendapatkan kesempatan bekerja di bank, yang kemudian berkenalan seorang pria bernama Khalil Sultan dan kelak mereka akan menjadi saudara ipar. Constantine King nantinya akan menjadi direktur utama berbagai bank besar, seperti Bank Buana, Bank Industri Dagang Indonesia, Bank Kemakmuran, Bank Panin, Bank Central Asia, dan terakhir Bank “Infinity” (nama samaran); sedangkan Khalil Wang nantinya akan menjadi pendiri Bank “Maskapai Indonesia” disingkat “Masin” (nama samaran, baik Bank Infinity dan Bank Masin adalah dua nama besar di Indonesia). Sedangkan Zhou Sheng Ru adalah putra seorang janda miskin asal Purwakarta yang kemudian pergi merantau ke Jakarta sendirian untuk bekerja di toko milik sahabat mendiang ayahnya. Di sana Zhou Sheng Ru bersahabat dengan putra bosnya yang bernama Chen Si, yang nantinya ketika mereka berdua sudah berusia dewasa akan membuka usaha bersama. Beberapa usaha besar yang mereka bentuk adalah Great River International (perusahaan besar di bidang garment, bangkrut pada tahun 2010) dan “Kuta International Bank” (sekarang sudah merger bersama beberapa bank lain dan menjadi salah satu bank besar di Indonesia).

Nah, tulisan ini bukan untuk menceritakan ulang novel ini, melainkan beberapa pembelajaran yang saya peroleh dari buku Taipan 1 ini. Ini beberapa di antaranya:

  1. “Mengejar dan Menunggang Kuda”

Dikisahkan bahwa pada suatu hari Constantine keluar dari Bank “Masin” yang ia rintis bersama kakak iparnya, karena perbedaan pendapat antara Constantine dengan para pemegang saham. Saat itu Constantine sedikit bingung dengan hal apa yang akan ia kerjakan selanjutnya, tetapi ketika ia hendak mengunjungi putranya di luar negeri, ia tidak sengaja berada satu pesawat dengan Om Lim – seorang pengusaha yang dekat dengan presiden Soeharto (you know who) – dan mengajaknya untuk bersama-sama membangun “Asia Central Bank” alias “ACB” (nama samaran). Constantine kemudian teringat dengan pesan yang pernah ia peroleh “mengejar dan menunggang kuda”, maksudnya adalah mendekati orang yang sudah sukses terlebih dahulu dan mengikutinya.  “Kalau mengejar kuda dengan menunggang kuda yang lebih hebat, pasti akan lebih mudah mengejar kuda di depan,” itu makna di balik filosofi mengejar dan menunggang kuda. Hasilnya? ACB menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia, bahkan di Asia, hingga saat ini. Bahkan saya adalah nasabah ACB, dan bisa saya pastikan 90% orang Indonesia yang memiliki tabungan juga merupakan nasabah dari ACB. Bahkan kantor tempat saya bekerja pun menggunakan ACB sebagai rekening payroll. ACB sukses besar dan nama Constantine King pun menjadi besar, meskipun pada akhirnya ia mengundurkan diri dan membuat bank barunya sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, “mengejar dan menunggang kuda” dapat kita aplikasikan dengan mencari mentor. Cari sosok yang sudah lebih sukses di bidang yang kita geluti, kemudian jalin pertemanan dan belajar banyak dari orang itu.

Bagaimana agar bisa dikenal oleh sosok mentor itu sehingga bisa menjalin pertemanan?

  • Bergabung dalam sebuah komunitas. Di sana kita akan bertemu dengan sosok yang lebih senior atau yang sudah sukses terlebih dahulu, kemudian ambil perhatiannya (dengan cara yang baik dan pantas, tentunya). Orang sukses biasanya akan lebih terbuka dengan orang baru yang ia kenal dalam komunitas yang sama.
  • Ikut sebuah pelatihan, lalu ambil perhatian sang trainer. Misal, seusai pelatihan, hampiri ia di depan dan berikan beberapa pertanyaan bagus, lalu minta alamat e-mail untuk berkorespondensi. Jika pertanyaan kita bagus, biasanya trainer akan lebih mudah mengingat kita. Bagaimana cara menghasilkan pertanyaan yang bagus? Simak ajarannya dengan penuh perhatian. Jika Anda benar-benar menyimak ajarannya, pasti akan muncul beberapa pertanyaan yang berkualitas.
  • Cara ini agak munafik dan tidak saya rekomendasikan, tetapi works, yaitu aktif di sebuah tempat ibadah dan berkenalan dengan bos di sana. Orang-orang juga biasanya lebih terbuka dengan orang yang berada satu komunitas agama dengannya. Cara ini juga dilakukan oleh Constantine King. Konon ketika Constantine King sedang mengalami kesulitan bisnis, ia mendengar bahwa Kwan Im Tang (Kelenteng Kwan Im) di Mangga Besar sering didatangi oleh para bos yang sedang beribadah. Constantine sebenarnya adalah seorang non-Konghucu dan non-Buddhis, tetapi ia tetap pergi ke kelenteng itu dan beribadah selayaknya umat. Dari sana, Constantine berhasil berkenalan dengan beberapa bos yang memberinya beberapa proyek. Tapi sekali lagi, saya tidak merekomendasikan cara ini karena munafik.

Menurut saya, cara yang paling mudah dan smooth adalah dengan bergabung di sebuah komunitas terkait bidang yang sedang Anda geluti.

2. “Lie Yi Lian Dje (Ramah, Baik, Jujur, dan Tahu Malu)”

Dikisahkan bahwa Constantine hendak merantau, ayahnya memberikan sebuah pesan yang berbunyi “Lie Yi Lian Dje” yang artinya ramah, baik, jujur, dan tahu malu. Pesan ini diingat baik oleh Constantine, walaupun tidak ia praktikkan dalam bisnisnya. Menariknya, Budi Firdaus – protagonis lainnya di buku ini – yang mempraktikkan prinsip tersebut. Budi Firdaus selalu bersikap ramah kepada siapapun yang ia temui, sehingga orang-orang juga senang kepadanya dan dari sanalah relasi bisnisnya berkembang. Selain itu, Budi Firdaus juga baik terhadap karyawan-karyawannya sendiri, sehingga karyawannya juga menjadi sangat menghormati Budi Firdaus. Ia juga jujur dan tahu malu. Budi Firdaus tidak pernah menipu orang lain dan akibatnya, banyak bos besar yang menjadi percaya kepadanya dan semakin membantu Budi untuk mengembangkan bisnis.

Sebenarnya Constantine ada mempraktikkan salah satu dari prinsip ini, yakni “baik”, meskipun tidak tulus. Constantine sering melakukan “menebar jasa”, yakni memberi bantuan kepada pengusaha-pengusaha lain yang sedang berada dalam kesusahan. Dengan menebar jasa ini, orang akan merasa berhutang budi dan kelak ketika Constantine membutuhkan bantuan dari orang itu, mereka akan sungkan untuk menolak karena sudah merasa berhutang budi.

Oh iya, mungkin di titik ini Anda mulai sadar, dua protagonis di buku ini mewakili dua sisi yang berbeda: Constantine King dari sisi gelap, sedangkan Budi Firdaus dari sisi terang. Nanti di buku kedua dan ketiga perbedaan gelap-terang ini akan semakin kontras.

3. Tidak ada Bos Besar yang Ongkang-Ongkang Kaki

Saya tidak tahu juga mengapa banyak orang berpikir bahwa menjadi konglomerat atau bos besar itu kerjaannya hanya “ongkang-ongkang kaki” dan uang akan terus mengalir. Jika kita membaca buku ini, kita akan tahu bahwa mereka yang sudah sukses sekalipun masih bekerja. Constantine King misalnya, ketika usahanya sudah menjadi sangat besar, ia justru semakin rajin bekerja karena pesaingnya menjadi semakin banyak. Memang, pekerjaannya sudah lebih strategis seperti menyusun visi perusahaan, memantau para direksi, dan melakukan negosiasi dengan bos lain; tetapi ini membuktikan bahwa orang sukses itu bukan orang yang pemalas, melainkan orang yang senantiasa berpikir dan bekerja.

Pemikiran bahwa menjadi orang kaya itu hanya “ongkang-ongkang kaki” itu sebenarnya menyesatkan. Pertama, memang bukan seperti itu prinsip hidup orang besar. Kedua, dengan berpikir ingin hidup dengan “ongkang-ongkang kaki”, kita dapat menjadi mudah tertipu berbagai tawaran bisnis atau investasi yang menyesatkan dan merugikan. Iming-iming kaya dengan mudah membuat kita gelap mata (dan gelap hati), padahal para bos besar justru mendapatkan kekayaannya dengan kerja keras. Contoh termudah: mari kita lihat para korban investasi bodong, sebagian besar termakan dengan iming-iming menjadi kaya dengan ongkang-ongkang kaki saja.

Sebelum tulisan ini saya akhiri, izinkan saya meringkas kembali ketiga pembelajaran dari buku Taipan 1 ini, yaitu:

  1. Mengejar dan menunggang kuda: kita perlu berkenalan dan belajar dari seseorang yang sudah lebih sukses dari kita.
  2. Lie Li Yan Dje: bersikap ramah, berbuat baik, senantiasa jujur dan tahu malu. Dengan demikian orang akan lebih mudah percaya dengan kita.
  3. Tidak ada orang kaya yang hanya ongkang-ongkang kaki, bahkan ketika ia sudah sukses sekalipun: semua butuh proses dan usaha. Kesuksesan adalah milik orang yang mau menjalaninya, bukan milik orang malas.

Terakhir, seperti yang saya tuliskan tadi, karena ini adalah novel sejarah, maka kisah-kisah di dalam buku ini sudah diberi bumbu drama agar terasa emosional untuk dibaca. Buku ini sarat akan sejarah, mulai dari sejarah Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan Jepang (beberapa konglomerat besar Indonesia lahir sebelum Indonesia merdeka), sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, hingga pada buku ketiga berlatar tahun 1990an akhir di zaman reformasi. Setiap selesai membaca beberapa bab, saya selalu Googling, melakukan validasi dari isi novel ini. Banyak informasi sejarah menarik yang selama ini jarang diceritakan! Misalnya, saya menjadi tahu ada pasukan pertahanan diri para Tionghoa Indonesia pada awal masa kemerdekaan Indoensia yang disebut sebagai “Pao An Tui”, lalu kejadian “Gunting Syafrudin” yang membuat sebagian besar rakyat Indonesia kehilangan 90% hartanya, hingga fakta ‘kelam’ tentang alm. Presiden B.J. Habibie yang selama ini kita kagumi. Membaca novel ini bukan sekadar membaca cerita tentang para bos besar saja, tetapi juga membaca bagaimana perkembangan sejarah ekonomi, sosial, dan politik Indonesia dari zaman pra-kemerdekaan hingga reformasi.

Semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat. Dan jika tulisan ini ternyata disambut dengan antusias, saya akan melanjutkan menulis pembelajaran untuk buku Taipan 2 dan 3. Tapi bila tidak, ya tidak apa-apa, saya akan menulis ringkasan buku lain.

Q&A Pengalaman Kuliah Psikologi

Karena banyak yang suka DM saya di Instagram seputar kuliah psikologi, saya bikin list pertanyaan dan jawabannya di sini ya, mungkin ada yang membutuhkan:

1. Kuliah psikologi itu harus SMA IPA atau IPS?

IPA atau IPS bisa. Memang ada 1 atau 2 kampus yang hanya menerima lulusan SMA IPA untuk masuk psikologi, tetapi sekarang sebagian besar kampus (90% lebih) sudah menerima lulusan IPS.

Jawaban terbaik untuk pertanyaan ini adalah: tentukan mau kuliah di kampus mana, lalu hubungi kampus tersebut, terima lulusan IPA IPS atau IPA saja. Karena aturan ini berbeda-beda setiap kampus.

2. Kuliah psikologi boleh lulusan SMK atau tidak?

Nah ini sama seperti pertanyaan pada nomor 1. Sebenarnya beda kampus, beda aturan. Di kampus tempat saya kuliah dulu (Universitas Tarumanagara) harus lulusan SMA untuk masuk jurusan psikologi, tetapi di kampus tempat saya mengajar (Universitas Bunda Mulia) lulusan SMK pun bisa masuk jurusan psikologi, karena ada salah satu murid saya lulusan SMK Pariwisata.

Jadi, jawaban terbaik untuk pertanyaan ini adalah, hubungi kampus tempat kamu mau kuliah, tanyakan menerima lulusan SMK atau tidak. Karena setiap kampus beda-beda aturannya.

3. Kuliah psikologi itu susah atau tidak?

Ini relatif. Kalau saya pasti menjawabnya mudah, karena passion saya di psikologi. Tapi bagi sebagian orang, psikologi itu susah.

Menurut saya, psikologi itu mudah karena sebenarnya membahas diri kita sendiri. Kita akan belajar tentang proses berpikir, emosi, perasaan, perilaku, yang sebenarnya ujung-ujungnya adalah tentang diri kita sendiri. Karena tentang diri kita sendiri, belajarnya jadi menyenangkan, dan saya pun merasa mudah untuk mempelajarinya.

Menurut sebagian orang, psikologi itu susah. Analisis harus tajam dan mendalam, harus peka dengan berbagai macam faktor (psikologis, biologis, sampai sosial) yang berinteraksi dengan orang tersebut, observasi harus kuat, dll.

Tapi menurut saya, sepanjang kita suka dengan ilmu tersebut, kita pasti enjoy mempelajarinya 🙂

4. Kuliah psikologi itu tidak ada hitung-hitungan kan?

Nah ini yang suka salah kaprah. Banyak mahasiswa saya termotivasi untuk masuk jurusan psikologi karena menganggap tidak ada hitung-hitungan di jurusan psikologi. Padahal, psikologi termasuk ilmu yang mengandalkan statistik 🙂

Yes, di tahun pertama kuliah, kita akan belajar statistik. Banyak mahasiswa yang shock karena berasumsi kuliah psikologi itu tidak ada hitung-hitungannya. Tapi percaya deh, statistika psikologi itu sebenarnya mudah, jauh lebih mudah daripada pelajaran fisika di SMA.

Nanti di tahun kedua atau tahun ketiga, kita akan bertemu pelajaran psikometrika. Ini adalah mata kuliah yang hitungan banget dan biasanya banyak mahasiswa “stuck” di sini. Tetapi mahasiswa yang stuck biasanya adalah mahasiswa yang hanya memilih jurusan psikologi supaya tidak bertemu pelajaran matematika (padahal ada). Saya lihat mahasisaw yang benar-benar suka psikologi, bisa menghadapi mata kuliah psikometrika ini dengan baik.

Intinya, psikologi ada hitung-hitungan, tetapi tidak sesulit fisika SMA. Yang penting mau belajar dan menyimak penjelasan dosen, pasti lulus 🙂

5. Kuliah psikologi banyak pakai buku Bahasa Inggris ya?

Bukan psikologi saja sih, jurusan lain (kecuali jurusan Sastra Mandarin atau Sastra Jawa, dsb.) pasti bakal pakai banyak buku-buku dan artikel jurnal ber-Bahasa Inggris! Mengapa? Karena ilmu pengetahuan lebih cepat berkembang di negara-negara barat. Kalau kita belajar dari literatur Bahasa Inggris, maka ilmu kita akan lebih cepat updatenya.

Tapi tenang kok, dosen-dosen juga baik, biasanya mereka akan membantu kita dalam proses belajar dari buku-buku Bahasa Inggris tersebut. Biasa ada ringkasannya dalam Bahasa Indonesia atau sesi diskusi untuk mengonfirmasi apa yang sudah kamu pelajari.

Jadi jawabannya, iya. Tapi bukan hanya di jurusan psikologi, di jurusan lain juga gitu.

6. Aku mau kuliah psikologi, ada rekomendasi buku yang harus aku baca gak?

Ada! Yaitu buku Psikologi Positif karangan saya sendiri! Hahaha…

Narsis? Bukan! Buku “Psikologi Positif” memang saya susun sebagai sebuah buku yang ringan (tapi padat) dan aplikatif tentang psikologi. Isinya adalah berbagai macam pengetahuan tentang diri kita (mulai dari emosi, rasa kecewa, pesimisme, kesedihan, kebahagiaan, sampai mindfulness) yang saya tulis berdasarkan ilmu psikologi yang ilmiah (bukan pseudoscience atau ilmiah semu), lengkap dengan berbagai contoh kasus dan sampai ada latihannya.

Buku ini memang saya susun karena banyak yang mengirimkan DM ke IG saya seputar buku psikologi yang bagus dan bisa dibaca oleh orang awam. Saat ditanya itu, saya bingung mau merekomendasikan buku apa karena sebagian besar buku psikologi yang bagus itu isinya terlalu sulit bagi orang awam, dan jarang ada buku psikologi yang ringan, praktis, tapi tetap berkualitas tinggi.

Buku “Psikologi Positif” bisa diperoleh di toko buku Gramedia atau lewat akun Tokopedia ini (buat yang kepingin dianterin aja bukunya).

7. Kuliah psikologi itu tugasnya ngapain saja?

BANYAK! Hahaha…

Saya tidak bisa sebut semua, tetapi beberapa tugas yang saya nilai berkesan selama kuliah psikologi:

Saya pernah ditugasi ke Sentul (saya domisili di Jakarta) untuk mewawancarai atlet voli yang akan berangkat olimpiade. Wawancaranya adalah tentang bagaimana kesiapan mental mereka dalam bertanding. Ini seru banget karena kita harus berangkat pagi-pagi (kalau telat sedikit, mereka sudah mulai latihan dan tidak mau diganggu), bisa lihat langsung tempat latihan atlet, dan bisa ngobrol langsung. Ini tugas mata kuliah Psikologi Olahraga. Oh iya, dan proses wawancara ini tidak ditemani dosen alias kita berangkat sendiri, dosen hanya baca hasil laporannya (tapi ini justru yang bikin seru).

Tugas lainnya yang tak kalah seru adalah mata kuliah Metode Observasi. Saya ditugasi pergi ke mall, lalu memilih satu orang yang akan kita amati selama 30 menit. Kebetulan saya mendapat tugas mengobservasi ibu dan anak yang sedang makan di salah satu gerai fastfood. Awalnya agak canggung karena takut dianggap freak atau takut ketahuan, tetapi kalau kita sudah mengerti caranya, ternyata aman-aman saja. Nah, ada teman saya yang dapat tugas mengamati petugas penyobek tiket di pintu masuk studio bioskop, ini dia sampai didatangi satpam karena dianggap mencurigakan! Hahaha…

Yang pasti akan banyak tugas untuk mewawancarai, mengobservasi, atau meminta orang lain mengisi kuesioner; kemudian kita membuat laporannya. Seru, menantang, tetapi tetap menyenangkan!

8. Lulus psikologi bisa kerja apa?

Banyak yang mengira lulus S1 bisa jadi psikolog, padahal belum… Untuk menjadi psikolog, kamu harus lulus S1 dan S2 psikologi, lalu ikut ujian Himpsi (Himpunan Psikologi Indonesia).

Tapi bukan berarti lulusan S1 psikologi tidak bisa kerja, bisa kok, misalnya:

  • Praktisi HR: kamu bisa kerja di kantor sebagai staf HRD. Tugas seorang praktisi HRD adalah melakukan rekrutmen dan seleksi karyawan baru, mengurus personalia (absensi, kedisiplinan karyawan, dsb.), sampai merancang training untuk karyawan. Nantinya kamu bisa jadi supervisor, manager, bahkan sampai direktur.
  • Konselor: kamu bisa kerja di sekolah sebagai konselor, atau kadangkala disamakan dengan guru BK. Sebagai konselor, tentu tugas kamu adalah membantu siswa-siswa yang mengalami masalah agar mereka bisa mengatasi masalahnya. Ini seru banget.
  • Asisten psikolog: kamu bisa juga kerja di pusat layanan psikologi (biro) tertentu, kemudian bekerja sebagai asisten psikolog. Misalnya, membantu psikolog melakukan assessment, melakukan anamnesa, sampai membantu psikologi memberikan konseling maupun intervensi psikologi.

Yang pasti, bidang kerja lulusan psikologi itu banyak, karena selagi masih ada manusia, psikologi pasti masih berguna 🙂

Well, itu saja list Q&A-nya. Mungkin kalau ada tambahan lagi, akan saya masukan. Be happy! 🙂

Apakah Remaja di Jakarta Memilih Jurusan Kuliah Sesuai Minat?

Apakah mahasiswa di Indonesia sudah memilih jurusan kuliah yang sesuai dengan minatnya? Ini kira-kira pertanyaan yang muncul di benak saya ketika sedang memikirkan sebuah topik penelitian. Dan ketika saya mencari tahu informasi ini melalui mesin penelusuran Google, nampaknya belum ada yang meneliti ini. Cukup menarik, penelitian ini dasar sekali namun ternyata belum ada yang melakukannya. Maka ketika ada salah seorang mahasiswa bimbingan skripsi saya ingin meneliti tentang psikologi pendidikan, saya tawari topik ini. Kami berdua melakukan penelitian “payungan”. Saya meneliti secara deskriptif mengenai kesesuaian minat dan pilihan jurusan kuliah, mahasiswa saya meneliti dampak dari salah jurusan terhadap kesejahteraan akademik. Ini seru.

Dan sebagai diseminasi hasil penelitian saya, tanggal 10 dan 11 Januari kemarin saya baru saja dari kota Purwokerto, Jawa Tengah, untuk mengikuti International Seminar on Psychology 2020 di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Saya senang sekali ketika bisa kembali mengunjungi Purwokerto, kota kecil dengan suasana tenang yang membuat saya rindu untuk kembali.

Lalu bagaimana dengan hasil penelitian tersebut?

Partisipan sebanyak 300 orang saya kumpulkan dari berbagai mahasiswa di kota Jakarta. Mengapa Jakarta? Pertama, saya tidak memiliki sumber daya untuk mengambil data dari seluruh Indonesia, sehingga lingkup penelitian saya perkecil menjadi satu wilayah tertentu saja. Kedua, saat ini Jakarta adalah “simbol” dari Indonesia di mata internasional, sehingga fenomena psikologis yang terjadi di Jakarta bisa menjadi bahan refleksi bagi daerah lainnya di Indonesia. Ketiga, banyak mahasiswa dari daerah lain yang merantau untuk kuliah di Jakarta sehingga data yang diperoleh juga bisa lebih heterogen.

Setiap partisipan saya minta untuk mengisi tes SDS Holland yang mengukur minat seseorang. Saya kemudian menginterpretasikan hasil tes Holland tersebut sesuai dengan kaidah pengujian minat (Holland code). Hal ini bukan pekerjaan yang terlalu sulit, karena sebelumnya saya pernah bekerja di sebuah biro psikologi dan banyak melakukan tes bakat minat untuk pelajar. Setelah saya memeroleh informasi minat partisipan dari tes, saya kemudian melakukan uji korelasi antara minat mereka dengan jurusan kuliah yang sudah mereka pilih.

Hasilnya, 195 orang (atau 65% dari total partisipan) ternyata memilih jurusan kuliah yang tidak sesuai dengan minat mereka. Hal ini cukup membuat prihatin meskipun tidak terlalu mengejutkan. Meskipun kesesuaian jurusan kuliah dengan minat tidak menjamin kesuksesan di masa depan, namun jurusan kuliah yang sesuai dengan minat akan membuat mahasiswa lebih termotivasi dan bertanggung jawab terhadap studinya. Sayangnya, kekurangan dari penelitian ini adalah saya tidak sempat mewawancarai atau mengambil data tentang alasan mereka memilih jurusan kuliah tersebut. Apakah karena bingung memilih jurusan, mengikuti teman-teman, atau karena dorongan orangtua?

Well, presentasi hasil penelitian saya di Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini ternyata cukup mendapatkan apresiasi. Sesi tanya jawab pun bergulir seru. Dan di akhir sesi, saya mendapatkan informasi yang tidak saya duga-duga, saya mendapatkan predikat pemakalah terbaik! Saya cukup bangga karena lingkup dari seminar ini adalah internasional dan dihadiri oleh peneliti dari beberapa negara di Asia Tenggara (yang pasti ada adalah Malaysia).

Mungkin hal ini terjadi karena bidang penelitian saya sesuai dengan minat saya juga, sehingga meski penelitian yang saya lakukan sederhana, tetapi saya melakukannya dengan sepenuh hati :).

Sebuah pencapaian yang menyenangkan di awal tahun 2020. Dan sebagai pesan penutup, mari kita tingkatkan lagi kesadaran minat pada remaja agar mereka bisa memilih jurusan kuliah yang sesuai, guna memaksimalkan potensi dan sumber daya yang mereka miliki.

Salam.