Self-Compassion: Menghadapi Kesulitan dengan Kasih

Mari kita renungkan pertanyaan ini: siapa yang tidak pernah menghadapi kegagalan? Layaknya dunia pasti melewati siang dan malam, dalam kehidupan pun kita pasti mengalami keberhasilan dan kegagalan. Layaknya siang dan malam yang saling bergantian muncul, keberhasilan dan kegagalan pun selalu bergantian muncul dalam kehidupan. Perbedaannya hanya pada prediktibilitasnya, datangnya siang maupun malam bisa diprediksi dengan mudah, sedangkan munculnya kegagalan seringkali datang di luar prediksi.

Manusia, sejak kecil, sudah disiapkan agar bisa menjadi orang yang berhasil. Manusia diberikan cerita-cerita inspiratif mengenai kesukesan, diberikan pembekalan baik secara kognitif maupun afektif mengenai pencapaian hidup, dan diberikan impian akan masa depan yang lebih cerah. Manusia diberikan persiapan untuk berhasil, tetapi sayangnya manusia tidak diberikan persiapan untuk menghadapi kegagalan. Dan celakanya, kegagalan itu pasti akan datang dalam kehidupan setiap manusia, siap tidak siap!

Akhirnya, banyak manusia yang hancur ketika kegagalan itu tiba. Mental belum siap (dan memang tidak dipersiapkan), belum lagi kadangkala lingkungan sosial juga lebih menghargai orang yang sukses daripada orang yang sedang tidak berhasil. Jadilah manusia menjadi semakin merasa terpojok. Perasaan sedih akibat kegagalan itu kemudian berkembang menjadi rasa kecewa terhadap diri sendiri, yang perlahan-lahan juga berkembang menjadi sikap yang buruk terhadap diri sendiri. Akhirnya kita menjadi sering mendengar ucapan ini, “Tidak apa-apa, saya memang pantas mendapatkan kejadian buruk ini.”

Seorang pakar ilmu perkembangan manusia dari University of Texas bernama Kristin Neff memerhatikan fenomena ini, kemudian mengembangkan sebuah konsep yang disebut dengan “self-compassion”, yang mungkin secara bebas bisa diterjemahkan sebagai “bersikap welas asih terhadap diri sendiri”. Kristin Neff mengajarkan bahwa kita boleh bersikap baik terhadap diri kita sendiri ketika sedang menghadapi kegagalan, termasuk menerima kesalahan yang diperbuat oleh diri sendiri, dan karenanya kita pantas untuk tetap diperlakukan dengan baik. Self-compassion ini kemudian juga menjadi judul buku dari Kristin Neff sendiri, yang diterbitkan pada tahun 2011 dan menjadi salah satu buku psikologi yang paling berpengaruh pada dekade ini.

Kunci dari self-compassion atau berwelas asih terhadap diri sendiri adalah memandang bahwa kegagalan merupakan bagian dari kehidupan yang pasti dialami oleh setiap manusia. Karena itu, ketika kita mengalami kegagalan, maka kita tetap layak untuk diperlakukan secara manusiawi. Tidak ada alasan untuk membenci dan menghukum diri sendiri karena kegagalan itu adalah bagian dari kehidupan, yang tidak bisa dihindari dan dialami oleh setiap orang.

Dengan demikian, self-compassion mengajarkan bahwa kita perlu tetap mengasihi diri sendiri ketika kegagalan itu tiba. Berbagai emosi negatif yang muncul ketika hal buruk terjadi adalah wajar, dan kita harus mampu menyadarinya, serta menyikapinya dengan seimbang. Bukan dengan melebih-lebihkan atau berusaha untuk menekan emosi negatif tersebut. Dengan kata lain, it’s fine to be unfine.

Berbagai riset telah menunjukkan manfaat dari mengembangkan self-compassion. Pastinya seseorang menjadi lebih mampu bertahan ketika mengalami kegagalan, serta memandang diri sendiri dengan lebih positif. Orang-orang yang mengembangkan self-compassion lebih terlindungi dari masalah depresi dan kecemasan, dan karena itu lebih bahagia.

Maka, ketika sedang mengalami kegagalan, kita harus menghadapinya dengan tenang. Dan salah satu kuncinya adalah self-compassion.

Referensi:

  • Brown, B. (2010). The gifts of imperfection: Let go of who you think you’re supposed to be and embrace who you are. MN: Hazelden Publishing.
  • Neff, K. (2011). Self-compassion: The proven power of being kind to yourself. NY: HarperCollins.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *